. Tim Penyelamat Partai Golkar (TPPG ) yang dipimpin Agung Laksono terus memersoalkan musyawarah nasional (munas) partai di Bali yang mengantarkan Aburizal Bakrie (ARB) kembali menjadi ketua umum. Golkar kubu Agung yang menggelar munas di Ancol, melalui mahkamah partai mempersoalkan munas ARB di Bali yang dianggap tidak demokratis, penuh skenario dan intimidasi.
Menurut anggota TPPG, Agun Gunanjar, pihaknya sudah jauh-jauh hari mengendus adanya skenario untuk meloloskan Ical kembali sebagai ketua umum. Agun bahkan mengaku sudah melihat gelagat itu sebelum Golkar menggelar rapat konsultasi nasional di Bandung.
"Saya sudah katakan ada desain besar tentang pemilihan secara aklamasi dengan menggunakan intimidasi atau iming-iming kepada DPD di seluruh Indonesia," ujar Agun, Rabu (11/2).
Karenanya politikus muda Golkar itu mengaku sudah tahu skenario munas di Bali. Sebab, semula munas akan digelar di Bandung pada 27 November. Hal itu dibuktikan dengan adanya souvenir yang didapatkan di Bali. "Itu bertuliskan Bandung," cetusnya.
Dari hal tersebut, lanjut dia, TPPG terbentuk. Tim ini tidak semata-mata muncul begitu saja. Menurut dia tim ini sudah dia gagas sejak lama. Jauh sebelum rapat pleno tanggal 25 November berlangsung. "TPPG itu bukan ujug-ujug muncul pikiran sesaat, saat itu juga muncul," tuturnya dilansir dari
JPNN.
TPPG, tambah dia, hadir bukan untuk menjalankan roda organisasi partai tetapi hanya menyelenggarakan munas sesuai AD/ART. Menurut mantan Ketua Komisi II DPR itu kehadiran TPPG dinilai wajib hukumnya, dikarenakan tim ini muncul untuk menyelamatkan Partai Golkar dari kesewenang-wenangan.
Dalam sidang mahkamah partai perdana (Rabu, 11/2), kubu Munas Ancol melayangkan delapan petitum yang secara garis besar menyatakan penyelenggaraan dan hasil Munas di Bali tidaklah sah. Sidang ini ditunda sampai pekan depan karena kubu ARB tidak datang, mereka beralasan, karena ingin menghormati proses hukum yang berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat.
[rus/jpnn]