Berita

Bisnis

Pemerintah Bebankan Pil Pahit TDL ke Rakyat

SELASA, 30 DESEMBER 2014 | 11:40 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) di awal 2015 merupakan pil pahit yang harus ditelan rakyat sendiri. Pemerintah biasanya menggunakan alasan bahwa kenaikan TDL tergantung pada harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

"Alasan ini selalu diprogandakan agar masyarakat yakin dan menerima kenaikan TDL ini. Padahal dengan kenaikan ini sama halnya dengan pengurangan subsidi listrik dan rakyat harus membayar lebih mahal," ujar pengamat anggaran politik Uchok Sky Khadafi dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi (Selasa, 30/12).

Padahal, kata Uchok, kenaikan TDL bukan hanya tergantung pada harga minyak dunia, dan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi terhadap dolar. Kehancuran manajemen PLN lebih dikarenakan perusahaan pelat merah itu harus membayar utang.


Lebih lanjut Uchok menjabarkan, bunga utang PLN yang harus dibayar pada tahun 2013, sebesar Rp 28,6 triliun dan 2012 juga sebesar Rp 28,6 triliun. Sedangkan utang PLN jangka panjang diperkirakan sebesar Rp 374,3 triliun.

Angka itu berasal dari penerusan pinjaman sebesar Rp 29,4 triliun, utang kepada pemerintah sebesar Rp 8,7 triliun, utang sewa pembiayaan sebesar Rp 129,7 triliun, utang bank dan surat utang jangka menengah sebesar Rp 66,4 triliun, utang obligasi sebesar Rp 81 triliun dan lain lain.

Selain itu, hasil audit BPK yang tercantum dalam Ikhtisar Hasil Pemeriksaan semester 1 tahun 2014, ditemukan kebocoran anggaran yang berakibat akan potensi kepada kerugian negara sebesar Rp 587 miliar, dan 1,2 juta dolar AS.

Dari gambaran di atas, lanjut Uchok, telah gamblang bahwa kenaikan TDL pada awal tahun 2015 bukan hanya alasan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Tapi disebabkan manajemen yang korup, dan suku bunga utang yang merangkak naik, serta utang yang menumpuk.

"Tapi sayang, pemerintah Jokowi tidak mau menelan pil pahit untuk memperbaiki keuangan PLN ini. Malahan Pil pahit diberikan kepada rakyat dalam bentuk kenaikan TDL, dan PLN dinahkoda oleh orang-orang yang bermasalah di mata publik," sambungnya.

"Artinya perubahan struktural di tubuh PT PLN (Persero), yang kini dijabat oleh Sofyan Basyir sebagai direktur utama, dan Chandra sebagai komisaris utama, justru malah membuat rumit benang kusut permasalahan yang terjadi di internal PLN," tandas Uchok.[wid]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

CELIOS Ungkap Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026

Rabu, 22 April 2026 | 14:13

Penambahan Komando Teritorial Berpotensi Seret TNI ke Politik Praktis

Rabu, 22 April 2026 | 14:05

Mega Syariah Bukukan Akuisisi Dana Pihak Ketiga Rp709 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 14:01

Prabowo Bakal Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | 13:49

Konsumsi BBM Harus Bijak di Tengah Gejolak Harga

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

Komisi X DPR Sesalkan Dugaan Kecurangan Peserta UTBK Undip

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

YLKI Sebut Pajak Tol Salah Sasaran dan Memberatkan Rakyat

Rabu, 22 April 2026 | 13:38

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 22 April 2026 | 13:24

Purbaya Pastikan Nasib Utang Whoosh Sudah Rampung

Rabu, 22 April 2026 | 13:10

Prabowo Jajaki Peluang Kirim WNI Ikut Program Kosmonaut Rusia

Rabu, 22 April 2026 | 12:58

Selengkapnya