Berita

banjir:net

Banjir Bandung Rendam 298 Kepala Keluarga

MINGGU, 21 DESEMBER 2014 | 05:16 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ribuan rumah di Baleendah dan sekitarnya, Kabupaten Bandung masih terendam banjir hingga Sabtu (20/12) malam. Rumah warga terendam hingga mencapai atap rumah. Ketinggian air rata-rata mencapai 2,5 meter. Banjir tahun ini lebih parah dan lebih dahsyat jika dibanding 2010, sampai mengakibatkan seorang tewas.

Kepala Seksi Trantib Kelurahan Baleendah Jembar Suhardiman menjelaskan, data sementara laporan yang diterima dari ketua RW, sebanyak 298 kepala keluarga (KK) dan 5.703 jiwa menjadi korban. Jumlahnya diprediksi bertambah terlihat dari para pengungsi terus berdatangan. Apalagi, jika hujan deras terus turun, membuat debet air semakin meningkat.

"Sementara GOR sudah penuh oleh pengungsi," kata Jembar, seperti dikutip dari Bandung Ekspres (Grup JPNN), Sabtu (20/12).


Saat ini, kata dia, para pengungsi membutuhkan sembako, selimut dan perlengkapan bayi. Meski, bantuan berupa apapun untuk korban banjir akan diterima. Kemudian, para pengungsi terdiri atas anak-anak, ibu-ibu dan ada yang baru melahirkan, juga ibu hamil. Berasal dari RW 9, 17, 19, 20 dan 28.

"Para pengungsi sudah mulai terserang penyakit demam sedikitnya ada 20 orang," jelasnya.

Jembar membandingkan, jika dilihat dari banjir yang terjadi pada 2010 debet air dengan yang sekarang hampir sama. Namun, jika hujan terus mengguyur, banjir kali ini akan semakin parah dibanding tahun 2010.

Dikatakan parah, menurut Jembar, sebab Sungai Citarum masih mengalami pendangkalan. Pengerukan juga tidak efektif karena dibuang ke samping sungai. Padahal, seharusnya dibuang ke tempat lebih jauh agar tanah sisa pengerukan tidak turun lagi ke sungai.

Sementara itu, Ketua RW 20 Kelurahan Baleendah Jaja menegaskan, banjir tahun ini lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya.

"Yah, banjir sekarang lebih parah dari tahun 2010," ucapnya.

Menurut Jaja, penyebab parahnya banjir karena terjadi pedangkalan Sungai Citarum yang sangat cepat. Walau tahun kemarin ada pengerukan, tapi belum menunjukkan hasil maksimal. Faktor penyebab lain, banyaknya berdiri perumahan-perumahan yang dulunya menjadi resapan air sekarang diurug.  [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya