Berita

foto:puspen tni

Politik

Instruksi Penenggelaman Kapal Asing Mestinya Didukung Penuh

RABU, 10 DESEMBER 2014 | 10:08 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam memberantas illegal fishing nelayan asing di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP NRI) dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) patut diberikan apresiasi dan didukung penuh.

Pasalnya, penenggelaman tiga kapal nelayan asal Vietnam di Anambas akan menimbulkan efek jera bagi para nelayan asing untuk tidak kembali melakukan pencurian ikan di Indonesia.

Begitu kata anggota Komisi IV DPR dari fraksi PDI Perjuangan, Ono Surono (Rabu, 10/12).


"Langkah ini tentunya harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh unsur penegak hukum di laut. Walaupun Badan Keamanan Laut (Bakamla) belum secara resmi dibentuk, Badan Koordinasi Keamanan Laut yang ada dan sudah dipenggawai 12 Institusi negara harus berjalan secara maksimal," ujarnya.

Ono menjelaskan bahwa problem yang dahulu menjadi titik lemah penegakkan hukum di laut, seperti komunikasi atau koordinasi antar institusi dan anggaran yang terbatas harus segera diselesaikan dengan memaksimalkan peran Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan dan Kementerian Koordinator Kemaritiman.

Anggaran penegakan hukum di laut, terutama untuk TNI AL dan POLRI pada perubahan APBN 2014 harus ditambah semaksimal mungkin. Baik untuk operasional kapal maupun kesejahteraan para prajurit.

"Selain penegakan hukum, nelayan Indonesia juga perlu didorong untuk menguasai WPP NRI dan ZEEI. Perlu dijalankan sebuah teori bahwa bila sebuah rumah ada penghuninya, maka pencuri akan berpikir berulang kali untuk menjalankan aksinya," tambahnya.

"Langkah Presiden Jokowi ini semoga akan membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan sekaligus  terwujudnya Indonesia sebagai poros maritim dunia," imbuh Ono Surono.[wid]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya