Berita

Politik

Resep Membuat Kabinet

SABTU, 25 OKTOBER 2014 | 23:17 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

KABINET adalah sekumpulan menteri yang dipimpin presiden dalam pemerintahan sebuah negara. Karena itu, kabinet niscaya mencerminkan dua hal: representasi (kekuatan) politik, dan arah kebijakan pemerintahan negara tersebut.

Bila kementerian utama (bidang ekuin dan polkam) diisi orang-orang yang memiliki rekam jejak dalam keberpihakannya kepada rakyat, maka mudah diterka ke mana arah kebijakan negara tersebut. Pasti bakal mengembangkan perekonomian domestik dengan memaksimalkan SDA dan SDM dari dalam negaranya.

Sebaliknya, apabila pos-pos penting itu diberikan kepada orang-orang yang memiliki track record sebagai hamba-hamba IMF, Bank Dunia dan para pemilik modal (dari negara luar), bisa dipastikan kebijakan negara tersebut adalah “mengobral” sumber daya alam milik bangsanya demi sebesar-besar kesejahteraan dan kemakmuran rakyat AS, Inggris, Cina, dll.


Membuat kabinet itu hak prerogatif presiden. Menurut konstitusi memang begitu. Ini diatur dalam pasal 17 ayat 2 UUD 1945: “Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden.”

Tapi dalam realitas politik dan pemerintahan modern di muka bumi, “hak prerogatif” itu tinggal mitos dan omong kosong belaka. Sebab sudah jadi kenyataan untuk memenangi pertarungan perebutan kursi kepresidenan, seorang kandidat wajib menggalang dukungan politik dari berbagai faksi, bahkan dari bekas rival-rivalnya. Untuk itu, pasti ada imbalannya.

Makanya jangan heran bila Obama harus mau memberikan kursi menlu kepada Hilary Clinton, pesaing politik utamanya dalam memperebutkan tiket capres AS dari partainya (Demokrat).

Jadi kalau masih ada politisi yang ngomong bahwa presiden adalah pemilik hak prerogatif itu, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia sedang membual, atau, orang ini politisi ingusan kelas kecamatan.

Tidak Semau Gue
Dalam sejarah perkabinetan di republik ini, hanya Soekarno dan Soeharto yang benar-benar pernah memiliki hak prerogatif itu. Tapi jangan salah, meskipun sangat berkuasa pada masanya, baik Presiden RI ke-1 maupun Presiden RI ke-2 itu, tidak sungguh-sungguh menggunakan hak prerogatif dalam pengertian “semau gue”.

Sebab dalam melakukan rekrutmen anggota kabinet, selain mempertimbangkan representasi kekuatan politik dan arah kebijakan pemerintahan, Soekarno dan Soeharto selalu mempertimbangkan representasi kutural, kebhinekaaan. Hal ini bisa dilihat dari komposisi Jawa dan luar Jawa, Muslim dan non-Muslim.

Pasca runtuhnya rezim otoritarianisme Soeharto, presiden RI selanjutnya memang mustahil memiliki hak prerogatif itu. Bahkan KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, Presiden RI ke-4, bukan saja harus berbagi kekuasaan (menentukan personal anggota kabinet) dengan kelompok Poros Tengah pimpinan Amin Rais, penyokong utamanya dalam memenangi kursi kepresidenan, tapi juga berbagi dengan Megawati Soekarnoputri, Ketum PDIP yang jadi seterunya dalam pilpres 1999 di MPR itu.

Namun demikian, karena memiliki integritas dan visi yang jelas, cara Gus Dur berbagi kekuasaan dalam membentuk kabinet sungguh sangat-sangat berbeda dengan Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Untuk posisi-posisi penting seperti Menko Ekonomi, Menkeu, Menlu, Mendagri, Menhan dan Jaksa Agung, Gus Dur memilih sendiri. Juga kementerian baru seperti kelautan dan perikanan. Tidak ada kompromi untuk itu.

Akan tetapi, tidak berarti porsi kementeriaan yang merupakan bagian dari “political deal” merupakan hak suka-suka sekutu politiknya. Gus Dur tetap memberikan kriteria ketat kepada mereka. Dengan catatan: apabila kelak terbukti tidak mampu, performannya buruk dan berperilaku korup, presiden akan segera memberhentikannya.

Benar, dalam membangun kabinetnya, Gus Dur memang seperti manajer pelatih sepakbola (Inggris) menyusun line up kesebelasan klub yang diasuhnya. Pertama-tama, tentu saja, Gus Dur membangun visi misi pemerintahannya. Setelah itu, dengan mudah dia mencari orang-orang yang memiliki karakter kuat untuk menempati posisi-posisi tertentu. Itu sebabnya hampir semua menteri dalam kabinet Gus Dur memiliki karakter.

Tentu saja hal yang tidak boleh dilupakan adalah formasi kesebelasan (kabinet) negara-negara lain, khususnya kawasan ASEAN, yang secara politik dan ekonomi merupakan sekutu sekaligus pesaing utama dalam kompetisi menyejahterakan rakyatnya. Makanya jangan memilih menteri yang hanya jagoan di kandang.

Jadi sebenarnya tidak rumit dan sulit membuat kabinet, kalau presidennya punya visi misi yang jelas, punya integritas dan karakter serta rekam jejak yang kuat dalam keberpihakan kepada rakyatnya.

Sialnya, dalam pilpres langsung rakyat tak bisa membedakan antara integritas dan popularitas, antara macan benaran dan macan kertas! [***]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

13 Langkah Komprehensif Kuatkan Rupiah

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:11

Dua Guru Magelang Didakwa Korupsi Modus Pungli Peserta PPG

Rabu, 03 Juni 2026 | 06:00

Bukan Dapur Asal Ngebul

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:26

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

Putusan MK soal Keterwakilan Kuota Perempuan Berikan Keadilan Gender

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:14

Syafrin Liputo Dituntut Bawa Jaksel Lebih Maju, Inklusif, dan Sejahtera

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:01

2.081 Polisi Kawal Ketat Piala AFF U-19 2026

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:22

Korban Kebakaran Kemayoran

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:19

Multipolaritas Harus Jadi Jalan Kerja Sama, Bukan Konfrontasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 04:09

KDM Sikat PKL Usai 30 Tahun Berkuasa di Bandung

Rabu, 03 Juni 2026 | 03:45

Selengkapnya