Berita

fahruddin hasibuan saat dirawat/net

Nusantara

Aktivis Antikorupsi Ditikam Bulan Lalu, Sampai Sekarang Pengusutannya Belum Jelas

SENIN, 29 SEPTEMBER 2014 | 13:56 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Kondisi kesehatan Fahruddin Hasibuan sudah mulai membaik. Meski begitu, Ketua Forum Bela Rakyat Indonesia (FBRI) ini belum bisa bergerak bebas dan masih terasa panas dan ngilu di bagian perutnya.

"Celana saja sampai sekarang belum bisa diresleting, apalagi pakai tali pinggang," jelas Fahruddin kepada Rakyat Merdeka Online saat dihubungi melalui sambungan telepon (Senin, 29/9).

Ketua LSM pegiat antikorupsi di Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara ini menjadi korban aksi penganiayaan, bahkan bisa disebut percobaan pembunuhan, pada Selasa pagi, 19 Agustus lalu. Saat itu, seperti diberitakan banyak media lokal, dia tengah mengendarai sepeda motor Honda Revo dengan nomor polisi BK 2528 YAC seorang diri dalam perjalanan dari Rantau Prapat (ibukota Kabupaten Labuhanbatu Induk) menuju Kota Pinang (ibukota Labusel).


Tepat berada di daerah persawitan atau sekitar 2 km dari Tolan Pekan, Kecamatan Kampung Rakyat, Labusel, dia dipepet sebuah sepeda motor Yamaha Vixion warna merah tanpa nopol yang dikendarai dua orang. Pengemudi mengenakan jeket hitam dan memakai helm; sementara orang yang dibonceng memakai jeket merah.

Setelah berhasil merapat, orang yang dibonceng tersebut menghunjamkan pisau belati kemudian yang mengemudi juga melakukan hal yang sama. Satu tikaman dari belakang tembus ke perut depan. Tusukan kedua dekat pusar masuk ke bagian dalam dengan kedalaman 25 Cm.

Tak pelak, Fahruddin terjatuh dari sepeda motor dan terkapar bersimbah darah di pinggir Jalan Lintas Sumatera tersebut. Saat keduanya hendak kabur, korban mendengar hardikan dari pelaku kepadanya: "Rasakan itu." Dia pun meminta tolong kepada pengguna jalan yang melewat. Dia kecewa kepada orang yang pertama kali melintas. Pasalnya, saat dimintai pertolongan, dua orang yang mengendarai sebuah Honda Revo hitam itu, justru berkata kasar kepadanya: "Mati kau ke situ. Di depan kau yang menikam itu." Makanya dia menduga, keduanya bagian dari pelaku yang menikamnya tadi.

Beruntung, ada pengguna jalan yang berbaik hati yang menolongnya dengan menghubungi pihak Puskemas setempat. Setelah itu, dengan menggunakan mobil patroli lalu lintas, korban lalu dibawa ke RS Aini, Bloksongo, Kota Pinang, untuk mendapatkan perawatan.

Kini sudah lebih dari sebulan Fahruddin mengalami insiden nahas tersebut. Tapi, katanya, sampai saat ini tidak jelas bagaimana pengusutan kasus kekerasan yang dialaminya.

Dia mengaku sudah pernah dimintai keterangan oleh pihak Kepolisian semasa di rumah sakit. Begitu juga tetangganya. Mengingat, sebelum kejadian tersebut, ada orang yang mencari-cari dimana rumahnya.

Namun, hanya sebatas dia dan tetangganya yang diperiksa. Pihak-pihak lain, termasuk mengusut otak intelektual di balik penikaman tersebut, belum disentuh Kepolisian. "Dugaan siapa pelaku, penyuruh dan apa motifnya sudah saya sampaikan semua ke polisi. Tapi belum jelas sampai sekarang, padahal sudah lebih dari sebulan ini," kesalnya.

Dia menengarai, aksi penganiayaan yang ia alami ini erat kaitannya dengan sebuah kasus korupsi yang diduga melibatkan pejabat Labusel bernilai puluhan miliar yang ia adukan ke Unit Tipikor Satreskrim Polres Labuhanbatu sebelumnya. Makanya Fahruddin menilai, penikamnya tersebut merupakan orang bayaran yang tak senang atas tindakannya melaporkan kasus tersebut.

Sementara itu, Kapolsek Kampung Rakyat, Iptu Jupiter Frans Simanjuntak, hanya menjawab singkat saat dihubungi untuk meminta penjelasan pengembangan penanganan kasus tersebut. "Saya lagi gelar perkara ini di Polres. Nanti habis gelar (perkara) saya telepon," jawab Iptu Jupiter Frans Simanjuntak.

Sebelumnya, Iptu D. Nainggolan yang saat kejadian menjabat Kanit Reskrim Polsek Kampung Rakyat, tak menyahut ketika dihubungi lewat sambungan telepon genggamnya. Pesan singkat yang dikirim untuk menanyakan perkembangan penanganan kasus penikaman terhadap Fahruddin tersebut, juga belum dibalas. [zul]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya