Berita

foto:cnn

Dunia

Redam Kerusuhan Sektarian, Jam Malam Mulai Diberlakukan

MINGGU, 06 JULI 2014 | 17:18 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Mulai malam ini (Minggu, 6/7) pemerintah Myanmar memberlakukan jam malam di Mandalay. Kebijakan ini diberlakukan untuk meredam kekerasan sektarian di kota terbesar kedua Myanmar itu.

Menteri Urusan Perbatasan dan Keamanan Provinsi Mandalay, Kolonel Aung Kyaw Moe mengatakan bahwa setidaknya dua orang tewas dan 14 lainnya mengalami luka-luka pasca munculnya kerusuhan pada hari Selasa (1/7).

Kerusuhan terjadi saat sekelompok massa etnis Budha menyerang kedai teh milik warga Muslim yang dituduh memerkosa seorang wanita Budha. Sejak itu kerusuhan pun terus meluas. Media pemerintah New Light of Myanmar melaporkan bahwa 8 kerusuhan secara terpisah terjadi di Provinsi Mandalay dalam 2 hari terakhir. Aksi ini melibatkan sebanyak 450 orang yang dilengkapi dengan berbagai jenis senjata tajam hingga bahan peledak.


Sebagaimana dikutip CNN (Minggu, 6/7), dua orang tewas akibat kerusuhan tersebut. Satu warga Muslim bernama Soen Min Htway yang tewas dibunuh saat berjalan menuju masjid. sementara seorang lainnya seorang Buddha bernama Tun Tun yang tewas digorok lehernya dengan pedang

Selama beberapa tahun terakhir, Myanmar telah menjelma jadi negara yang memiliki tingkat konflik sektarian tinggi, dengan kaum Muslim menjadi korban utamanya. Beberapa kelompok ektremis Budha seperti 969 Movement dituduh menjadi dalang utama kerusuhan dan mendorong diterapkannya UU Diskriminasi seperti larangan menikah antar-keyakinan.

Kerusuhan di Mandalay sendiri dipicu oleh aksi pemimpin gerakan 969 Movement, Ashin Wirathu, yang memposting tulisan provokatif tentang warga muslim pemilik kedai teh yang dituduh telah melakukan perkosaan. Ketua kelompok pembela HAM Fortify Rights, Matthew Smith, mengatakan bahwa para ekstremis menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian terhadap warga muslim dan dalam berbagai kasus memicu kerusuhan. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya