Berita

Politik

Wiranto, "Orang Lain" yang Dimaksud Mega di Balik Peristiwa 1998?

RABU, 11 JUNI 2014 | 18:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sebagai salah satu tokoh yang menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia selama Orde Baru, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pernah berpasangan dengan tokoh kontroversial di lingkaran isu pelanggaran HAM, Prabowo Subianto.

Kini, Prabowo dan Mega berpisah. PDIP, PKB, Hanura, PKPI dan Nasdem mengusung Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sedangkan Prabowo bersama Hatta Rajasa diusung Gerindra, PAN, Golkar, PKS, PPP, dan PBB.

Sekarang, isu dugaan kejahatan HAM Prabowo di tahun 1998 kembali memasuki musimnya. Tak tanggung-tanggung, cawapres Jusuf Kalla sendiri yang menohok Prabowo soal itu di panggung debat capres cawapres yang digelar KPU.


Tercatat, jelang Pilpres 2009 lalu, Mega pernah menjawab pertanyaan dari publik mengenai langkahnya menggandeng Prabowo. Dalam pemberitaan saat itu, Mega mengingatkan bahwa sesungguhnya dirinya pun adalah korban pelanggaran HAM oleh rezim Orde Baru, terutama dalam kasus 27 Juli 1996.

Namun, Mega mengajak segenap bangsa untuk menghilangkan rasa benci dan dendam dalam menyelesaikan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.

Mega pun menjelaskan, jika hukum harus ditegakkan maka bisa jadi tidak akan ada pihak yang puas. Namun kalau Prabowo terus dicecar soal kasus 98, menurut Mega, Prabowo pun punya hak membela diri karena mantan Danjen Kopassus itu hanya "korban" seperti dirinya.

"Saya tahu di balik itu ada diri orang lain. Sama seperti saya. Saya victim, korban. Kalau saya bilang, berapa orang saya buka untuk bisa balas dendam. Jadi diam sajalah. Kita kembalikan saja kepada Yang Di Atas," ujar Megawati saat itu (klik di sini).

Siapa "orang lain" yang dimaksud Mega? Sangat besar kemungkinan, yang dimaksudnya adalah Panglima ABRI saat tragedi itu terjadi, Jenderal Wiranto. Dialah atasan langsung Prabowo yang kala itu menjabat Panglima Kostrad sebelum Prabowo diberhentikan dengan hormat.
 
Pada 2009, Wiranto terlibat dalam kompetisi Pilpres. Saat itu, Wiranto adalah rival Mega. Ia mendampingi Jusuf Kalla yang kala itu menjadi capres. Mungkin saja, saat itu Mega sedang menyerang "halus" Wiranto dengan jejaknya di tahun 1998.

Sebelum spekulasi seputar tragedi 1998 terus menggelinding dan akhirnya jadi alat politik serta fitnah yang tak berujung, sangat penting bagi Mega untuk menjelaskan siapa "orang lain" yang dimaksudnya.

Mungkin berat bagi Mega untuk membahas tragedi 1998 ketika berada satu kubu dengan Wiranto mencalonkan Jokowi-JK.

Tapi demi kepentingan yang lebih mulia, sebagai orang yang pernah menjadi korban pelanggaran HAM dan pernah berkuasa akibat gerakan reformasi 1998, seharusnya Mega memberi penjelasan yang membuat terang masalah. Dengan demikian segala prasangka dan fitnah bisa disudahi. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya