Berita

foto:net

Politik

MPR Didorong Melawan Lupa

SENIN, 02 JUNI 2014 | 14:43 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Pegiat anti pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang tergabung dalam Koalisi Melawan Lupa menyambangi Ketua MPR Sidharto Danusubroto. Mereka meminta lembaga tertinggi negara itu mendesak pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Terutama kasus penculikan aktivis.

"Kasus penculikan ini bukan diangkat kembali, bukan dilupakan tapi terus kami bawa karena pada dasarnya belum selesai," ujar jubir Koalisi Melawan Lupa Hendardi di gedung MPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/6).

Dia menjelaskan, kedatangannya ke ketua MPR lantaran pemerintah sudah menerima rekomendasi dari DPR soal penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Salah satu rekomendasinya membentuk peradilan HAM ad hoc. Namun begitu, hingga kini Presiden SBY belum sedikit pun menjalankan rekomendasi yang diberikan.


"Presiden juga belum membuat Keppres HAM. Karena itu kami meminta bantuan MPR dapat mendorong presiden mengeluarkam keppres," ujar Hendardi.

Menurut Ketua Setara Institute itu, beberapa kasus pelanggaran HAM sudah sampai di Kejaksaan Agung namun hingga kini masih terkatung-katung lantaran belum adanya keputusan presiden.

"Kami para pegiat HAM terus menerus mengawal penghilangan paksa ini," katanya.

Hendardi membantah jika desakan penuntasan kasus pelanggaran HAM terkait dengan kepentingan politik dalam Pemilu 2014. Menurutnya, kasus tersebut perlu dituntaskan setelah bertahun-tahun. Ditambah lagi adanya pengakuan mantan Wakesdam Jaya Kivlan Zein soal adanya aksi penculikan aktivis pada medio 97-98.

"Kami tidak menyerang kandidat tertentu dalam kampanye ini. Yang kami lakukan kampanye melawan lupa. Keadilan adalah dasar perjuangan kami. Ini semuanya untuk penegakan hukum, untuk kepentingan agar korban mengetahui keluarga mereka. Mereka yang keluiarganya dihilangkan paksa karena dalam situasi yang berat dalam penantian," jelas Hendardi.[wid]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya