Berita

Marzuki Alie

Wawancara

WAWANCARA

Marzuki Alie: Paling Ideal Kalau Demokrat Bisa Berkoalisi Dengan PDIP

SELASA, 15 APRIL 2014 | 10:14 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Partai Demokrat mengambil banyak pelajaran dari Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 yang berdasarkan quick count perolehan suaranya di kisaran 9 sampai 10 persen.

Ke depan, Partai Demokrat akan lebih gencar mensosialisasikan keberhasilan kerja dan melawan berbagai isu negatif yang menggerogoti elektabilitas partai.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie kepada Rakyat Merdeka yang dihubungi via telepon, Minggu (13/4).


“Pileg 2014 ini memberi pembelajaran berharga untuk kami. Isu negatif tidak boleh dibiarkan,” tegas Marzuki Alie.

Menurut Ketua DPR itu, anjloknya perolehan suara disebabkan lambatnya reaksi partai menyikapi berbagai isu negatif, utamanya kasus dugaan korupsi sejumlah oknum partai.

Peserta konvensi capres Partai Demokrat itu menjelaskan, isu dugaan korupsi mulai mendera Demokrat di masa kepemimpinan Anas Urbaningrum. Derasnya arus informasi membuat publik meyakini kebenaran isu tersebut, karena tidak dilakukan klarifikasi atau bantahan.

“Kondisi itu diperberat dengan lambannya upaya penyelamatan partai. Langkah-langkah penyelamatan baru dilakukan setelah survei elektabilitas berada di bawah angka 10 persen,” papar bekas Sekjen Partai Demokrat itu.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa yang pernah Anda lakukan untuk menyelamatkan Partai Demokrat?
Saya penah mengingatkan fungsionaris DPP dan sejumlah menteri Demokrat. Saya katakan, kalau isu negatif dibiarkan dan survei elektabilitas meluncur hingga di bawah angka 10 persen, Demokrat akan sulit mendapatkan kepercayaan publik dalam Pileg 2014.

Sebelum survei elektabilitas berada di bawah 10 persen, saya meminta dilakukan langkah-langkah penyelamatan. Tapi tidak dilakukan. Upaya tersebut baru dilakukan saat elektabilitas Demokrat berada di kisaran angka 4 sampai 5 persen.

Anda tidak bisa menerima hasil perolehan suara Demokrat?
Dengan perolehan suara di kisaran 9 sampai 10 persen, kami patut bersyukur. Angka ini kan jauh lebih tinggi dari prediksi sebelum pemilu, sekitar 4 sampai 5 persen. Karena waktunya pendek, hasil ini masih cukup baik. Ini pembelajaran berharga untuk kami.

Dengan hasil ini, apa yang akan dilakukan Demokrat pada pilpres mendatang?
Langkah realistisnya, ya koalisi. Demokrat sulit membangun poros baru, karena tidak ada figur yang bisa diusung untuk memenangkan pilpres.

Kalau ada figur yang elektabilitasnya seperti Pak SBY saat Pilpres 2004, ceritanya bisa berbeda. Kenyataanya kan belum ada. Jadi, pilihan yang paling realistis adalah berkoalisi dengan poros yang ada.

Jika berkoalisi dengan partai lain, bagaimana nasib konvensi capres Partai Demokrat?
Konvensi kan ajang untuk memilih calon presiden. Faktanya, perolehan suara Demokrat berada di kisaran 9 sampai 10 persen. Dengan kondisi ini, kita sulit melanjutkan konvensi. Saya menyarankan, komite konvensi mengembalikan mandat kepada Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Demokrat tidak akan mengusung capres?
Dengan elektabilitas yang belum mencukupi, waktu dan momentumnya terbatas, kita harus realistis. Biarkan Majelis Tinggi menindaklanjuti sikap dan langkah partai selanjutnya. Apakah Majelis Tinggi akan mencalonkan wakil presiden, biar mereka yang memutuskan.

Majelis Tinggi mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan hasil konvensi capres?
Apakah calon-calon yang ada ini disurvei dulu? Apakah mereka yang memiliki elektabilitas dipilih untuk berkompetisi? Keputusannya kita serahkan saja kepada Ketua Majelis Tinggi.

Tapi saya tidak pernah bilang agar Pak SBY melakukan langkah penyelamatan karena perolehan Partai Demokrat di kisaran 9 sampai 10 persen seperti dimuat dalam pemberitaan Rakyat Merdeka sebelumnya (edisi Minggu, 13/4). Itu salah dipersepsikan. Yang saya katakan adalah langkah penyelamatan itu perlu dilakukan saat Partai Demokrat didera berbagai isu negatif, utamanya kasus dugaan korupsi sejumlah oknum partai.

Dari tiga capres yang sudah ada, idealnya Demokrat berkoalisi dengan siapa?
Saya tidak bisa memastikan. Menurut saya, semuanya pilihan yang ada bisa jadi ideal. Tapi, paling ideal kalau berkoalisi dengan PDIP.

Kenapa dengan PDIP?
Kalau berkoalisi dengan PDIP, berarti kami berhasil membangun rekonsiliasi. Selama ini, Demokrat dan PDIP kan selalu dipersepsikan berhadap-hadapan. Dengan koalisi itu, persepsi yang selama ini ada akan hilang. Itu paling ideal.

Anda yakin koalisi itu bisa diwujudkan?
Ini tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Dalam politik, tidak ada hitam dan putih. Semua bisa terjadi. Koalisi bisa diwujudkan kalau ada kelegowoan dari para pimpinannya. Kelegowoan ini penting untuk membangun bangsa. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

UPDATE

Pemulihan Pasien Pasca-Stroke Lewat Teknologi Robotik, Siapa Takut?

Sabtu, 07 Februari 2026 | 20:03

10 Film Hollywood Dirilis Sepanjang 2026, Ada Spider-Man hingga Avengers: Doomsday

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:43

Huntara Bener Meriah Ditargetkan Siap Huni Jelang Ramadan

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:21

Perbaikan Program MBG untuk Indonesia Emas Menggema di Yogyakarta

Sabtu, 07 Februari 2026 | 19:00

BNI Lanjutkan Aksi Bersih Pantai dengan Dukungan Sarana TPS3R Sekar Tanjung di Bali

Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:54

Masuk Angin Vs GERD, Obat Herbal Tak Selalu Aman

Sabtu, 07 Februari 2026 | 18:09

Prabowo Curhat Tiap Mau Berantas Korupsi Ada Kerusuhan dan Adu Domba

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:51

PDIP Ajak Teladani Perjuangan Fatmawati Soekarno

Sabtu, 07 Februari 2026 | 17:15

BNI Gelar Aksi Bersih Pantai Mertasari

Sabtu, 07 Februari 2026 | 16:48

Kawal Ketat Pergub Penggunaan Air Tanah di Gedung Jakarta

Sabtu, 07 Februari 2026 | 16:27

Selengkapnya