Berita

Politik

Perhitungan Suara di Malaysia Rawan Manipulasi

SABTU, 12 APRIL 2014 | 19:37 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Perhitungan suara pemilih pos dan drop box pemilu luar negeri akan berakhir pada Selasa 15 April 2014 dan diterima KPU Pusat pada 17 April 2014. Namun banyaknya masa jeda saat proses rekapapitulasi di Kuala Lumpur berpotensi membuat perhitungan suara menjadi terlambat target.

Sebagaimana disampaikan ketua Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) se-Malaysia Gushairi bahwa jeda saat proses rekapitulasi pernah terjadi selama tiga hari usai pencoblosan di TPS pada tanggal 6 lalu. Teranyar, Panitia Pemilihan Luar Negeri Kuala Lumpur secara tiba-tiba mengumumkan permintaan jeda lagi atas rekapitulasi surat suara tadi malam (Jumat, 11/4).

PPLN berdalih memberi kesempatan pada sekitar 500 orang petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) beristirahat sejenak sekaligus mendistribusikan honor petugas setelah tiga hari melaksanakan rekapitulasi TPS, Drop Box dan Pemilih Pos," jelas Gushairi kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Sabtu, 12/4).


Akibatnya, WNI di Kuala Lumpur bertanya-tanya akan keputusan sepihak PPLN Kuala Lumpur yang cenderung menunda-nunda dalam menuntaskan rekapitulasi ratusan ribu surat suara pemilihan drop box dan pos tersebut. Secara logika sederhana, kata dia, dengan jumlah anggota KPPSLN yang demikian banyak, sepatutnya SDM yang ada bisa lebih efektif terkelola, tanpa mengambil risiko penundaan rekapitulasi yang bisa berakibat kerawanan akan manipulasi

"Wajar bila muncul sentimen akan potensi kerawanan atas pengelolaan ratusan ribu surat suara yang belum terhitung, apalagi tidak ada CCTV," tambahnya.

Untuk itu, Gushairi mengimbau pada PPLN Kuala Lumpur untuk lebih arif dan konsisten memenuhi target KPU Pusat dalam menjalankan peran penyelenggaraan pemilu di Malaysia.

"Sehingga tidak membuka ruang sedikitpun bagi terjadinya manipulasi amanah WNI di Luar Negeri," tutup Gushairi.[ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya