Berita

Politik

Serang SBY, Cara JK Cuci Tangan

KAMIS, 27 MARET 2014 | 21:17 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik keras Pemerintahan SBY. Dia menyebut keadilan yang dirasakan rakyat selama SBY memimpin kian menurun. Pada tahun 2004 gini ratio kita sebesar 0,37, tetapi selama sepuluh tahun terakhir justru makin tidak adil di angka 0,41.

JK, sapaan Jusuf Kalla, menyampaikan kritikan tersebut saat berbicara dalam Seminar Nasional "Temu Gagasan Tokoh Nasional Menuju Indonesia Lebih Baik 5 Tahun ke Depan" di Universitas Padjajaran, Bandung, Selasa (25/3).

Bagi pemerhati sosial politik, Abdulrachim K, kritikan JK ini sangat membingungkan. Angka gini rasio yang didalilkan JK tidak akurat.


"Yang benar menurut data BPS, kenaikan gini rasio antara tahun 2004-2009 adalah 0,32-0,37, sedangkan 2011 naik menjadi 0,41," papar Abdulrachim kepada redaksi (Kamis, 27/3).

"Dari data ini menunjukan, memang antara tahun 2009-2011 terjadi proses pelebaran kesenjangan kaya-miskin yang lebih cepat, tetapi pada saat JK menjabat wapresnya SBY, proses pelebaran kesenjangan kaya-miskin juga terjadi dengan signifikan," sambung dia.

Menurut Abdulrachim, sangat aneh JK menyampaikan kritik atas kenaikan gini rasio sebesar 0,32 di tahun 2004 menjadi 0,37 di 2009 padahal pada periode itu dia menjabat sebagai wapres dengan tugas utamanya mengurus bidang ekonomi.

"Kenaikan gini rasio yang terjadi saat JK menjadi wapres SBY ini menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintahan SBY-JK tidak pro rakyat dan malah pro orang kaya, bisnis besar, konglomerat dan asing," imbuh dia.

Abdulrachim menduga kritik berkedok cuci tangan yang dilakukan JK tak terlepas dari makin memanasnya eskalasi politik jelang Pilpres Juli 2014. JK, atau orang-orang di sekitar JK, belakangan ini dikabarkan gencar melobi PDIP agar dijadikan cawapresnya Jokowi,

Jelang Pilpres makin banyak tokoh yang mengiklankan dirinya sebagai calon pemimpin yang harus dipilih. Citra diri dipoles dengan segala cara, mulai dari sok-sok kritis, intelek, dan menjadi pembela rakyat. Tak peduli menyesatkan karena tidak sesuai fakta, tapi memasarkan diri dengan cara-cara demikian tetap dijalankan yang penting tujuan mendapat dukungan terpenuhi.

Untuk itu Abdulrachim mengimbau agar masyarakat termasuk dunia perguruan tinggi dan para intelektual, kritis dan mencermati pidato, kata-kata atau ucapan para tokoh, karena banyak yang tidak segan-segan untuk mengeluarkan pernyataan-pernyataannya yang bertentangan dengan tindakan-tindakannya sendiri demi pencitraan.

"Jangan mudah untuk disesatkan dengan berbagai citra yang memang selama ini dibangun untuk mendapatkan dukungan masyarakat, dan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Apalagi saat ini menjelang pemilihan Capres dan Cawapres yang akan mempengaruhi kehidupan riil masyarakat paling sedikit lima tahun ke depan," pungkas Abdulrachim.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya