Berita

Membaca Gelora dari Maladewa

SENIN, 24 MARET 2014 | 08:23 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Dunia mengenalnya sebagai Maldive atau Republik Maldive. Dalam bahasa Maldivian atau Dhivehi yang dipengaruhi bahasa India dari anak benua Asia dan bahasa Arab ia disebut Dhivehi Raajjeyge Jumhooriyya.

Belanda menyebutnya Maldivische Eilanden. Sementara Inggris menamainya Kepulauan Maldive. Adapun lidah kita menyebutnya: Maladewa. Dan sepekan terakhir ini sebagian dari kita tersenyum setiap kali menyebut atau mendengar kata itu: Maladewa.

Negeri di Samudera India, tepatnya di Laut Laccadive, sekitar 700 kilometer di baratdaya India atau 400 kilometer di baratdaya Sri Lanka, Maladewa terdiri dari rangkaian 26 kepulauan atol yang memanjang dari utara ke selatan. Gugusan Maladewa ini terbentuk dari 1.192 atol!


Dari total itu, hanya 192 atol yang dihuni manusia. Total penduduk Maladewa menurut sensus 2012 adalah sebanyak 328 ribu jiwa.

Sepanjang sejarahnya, Maladewa dikenal sebagai entitas politik yang independen. Namun demikian, sejarah konvensional menyebutkan bahwa Maladewa pernah tiga kali berada di bawah situasi penjajahan. Pertama, pada pertengahan abad ke-16. Di masa itu, selama 15 tahun lamanya Maladewa dikuasai Portugis.

Pada pertengahan abad-17, giliran Kerajaan Belanda dari Malabar yang menguasainya selama empat bulan. Akhirnya, di akhir abad ke-19 ketika berada di tepi perang saudara, Maladewa dikuasai Inggris antara 1887 hingga 1965.

Pada tahun 1968 Maladewa resmi menjadi republik yang dipimpin presiden dengan sebuah pemerintahan otoritarian.

Dengan luas wilayah 90 ribu kilometer persegi, Maladewa tercatat sebagai negara terkecil di Asia.

Sebagai negara atol, Maladewa memiliki keindahan laut dan laguna yang luar biasa.

Pemerintah Maladewa mulai menggenjot sektor turisme pada 1972, dan berhasil menggenjot sektor turisme sebagai penopang utama perekonomian nasional. Sepanjang tahun lalu disebutkan lebih dari 8 juta turis asing berkunjung ke negara itu.

Maladewa memiliki keindahan alam yang terkira, yang mampu menarik minat wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia. Sejauh ini memang belum diketahui pasti berapa jumlah turis dari Indonesia yang berkunjung ke negeri itu. Tetapi kita bisa menemukan dengan mudah promosi pariwisata Maladewa lewat.

Cerita tentang perjalanan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie bersama dua artis kakak-adik Marcella Zalianty dan Olivia Zalianty ini dari sudut pandang lain juga bisa disamakan dengan promosi gratis bagi turisme Maladewa.

Di sisi lain, Maladewa memiliki "musuh alami" yang begitu menakutkan para pemimpin dan rakyat negara itu. Musuh alami itu adalah kenyataan bahwa Maladewa hanya berada 1,5 meter di atas permukaan laut. Tempat tertinggi di negeri itu ada pada ketinggian 2,4 meter di atas pemukaan laut!

Kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global, misalnya, bisa membuat negara itu kolaps.

Tahun 2009 lalu, Presiden Mohamed Nasheed dan kabinet yang dipimpinnya unjuk rasa dengan cara yang tidak biasa.

Mereka menggelar rapat kabinet di bawah permukaan laut. Semuanya, termasuk wartawan yang meliput jalannya sidang kabinet menggunakan pakaian dan peralatan selam standar. Hanya tiga menteri yang tidak bisa hadir dalam rapat. Dua orang punya masalah kesehatan, dan seorang menteri lainnya sedang di Eropa.

Rapat kabinet digelar selama 30 menit, untuk menunjukkan pada dunia bahwa Maladewa yang indah bisa hilang dari peta bumi bila pemanasan global tidak teratasi. [dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

IJTI: Buku Saku 0 Persen Rujukan Penting Pers dan Publik

Sabtu, 11 April 2026 | 18:18

Prabowo Minta Maaf Belum Bawa Pencak Silat ke Olimpiade

Sabtu, 11 April 2026 | 17:50

Aktivis Tegas Lawan Pengkhianat Konstitusi

Sabtu, 11 April 2026 | 17:27

OTT KPK Tangkap 18 Orang, Bupati Tulungagung Digulung

Sabtu, 11 April 2026 | 16:19

Ingatkan JK, Banggar DPR: Kenaikan Harga BBM Bisa Turunkan Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 11 April 2026 | 16:14

Wamen Ossy: Satgas PKH Wujud Penyelamatan Kekayaan Negara

Sabtu, 11 April 2026 | 15:54

Jawab Tren, TV Estetik dengan Teknologi Flagship Diluncurkan

Sabtu, 11 April 2026 | 15:21

KNPI Soroti Gerakan Pemakzulan: Sebut Capaian Pemerintahan Prabowo Sangat Nyata

Sabtu, 11 April 2026 | 14:54

Setelah 34 Tahun, Prabowo Pamit dari Kursi Ketum IPSI di Munas XVI

Sabtu, 11 April 2026 | 14:47

Hadiri Munas IPSI, Prabowo Ungkap Jejak Keluarga dalam Dunia Pencak Silat

Sabtu, 11 April 2026 | 14:28

Selengkapnya