Berita

Hendri Satrio/net

Politik

Metro Kapsul, Kebohongan Selanjutnya Jokowi?

MINGGU, 23 MARET 2014 | 11:59 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Belum selesai persoalan proyek Mass Rapid Transit (MRT) dan Monorel oleh PT Jakarta Monorail (JM) yang sempat dibangga-banggakan, sekarang tiba-tiba muncul Metro Kapsul.

Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, munculnya ide Metro Kapsul semakin meyakinkan masyarakat bahwa Jokowi tidak pernah fokus untuk membangun Jakarta. Konsep 'Jakarta Baru' ala Jokowi kemungkinan hanya tergantung pesanan investor, dan dengan blusukan sebagai senjata mencari simpati utama.

"Saya mulai merasa bersalah ketika ikut-ikutan menjagokan Jokowi menggantikan Foke (Fauzi Bowo) 1,5 tahun yang lalu karena ternyata jagoan saya nggak pernah tulus dan jujur ingin bangun Jakarta," katanya kepada redaksi, Minggu (23/3).


"Sudahlah pak Jokowi, serahkanlah Jakarta ini ke pak Ahok, sujudlah ke partaimu, mengabdilah pada golongan kaya itu, kejarlah ambisimu jadi RI 1," tambah Hendri.

Tapi, lanjut Hendri, ia tetap menyerahkan keputusan yang terbaik menurut Jokowi, toh dia dan sebagian besar masyarakat Jakarta yang lain, terlalu mudah dibohongi Jokowi.

Sebenarya, kata Hendri, masyarakat bertanya-tanya apalagi yang diinginkan Jokowi. Setelah memutuskan untuk menyembah partainya, meninggalkan warga Jakarta dan mengkhianati janjinya, kali ini Jokowi kembali mencoba melakukan manuver ajaib.

"Metro Kapsul sekonyong-konyong digadang-gadang Jokowi untuk berada di Jakarta. Konon untuk kemudahan transportasi Jakarta, namun wacana ini menguat setelah ada investor lokal yang menawarkan konsep ini ke Jokowi," ungkapnya.

Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, pembangunan monorel Metro Kapsul lebih murah dan layak MRT dan Monorel. Mantan walikota Solo ini menjelaskan, untuk membangun MRT dibutuhkan investasi Rp 900 miliar per kilometer, sedangkan Monorel Rp 300-400 miliar per kilometer. Sementara itu monorel Metro Kapsul yang telah digunakan di Bandung dan Surabaya hanya membutuhkan investasi Rp 110 miliar per kilometer. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya