Berita

GPS Diam, Orangtua Korban Lapor Polisi

KAMIS, 20 MARET 2014 | 22:45 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Orangtua siswa Global Prestasi School (GPS) korban pengoroyokan melapor ke polisi. Keputusan ini diambil karena pihak sekolah dianggap mengingkari kesepakatan yang berisi janji mengeluarkan dua dari tujuh siswa yang melakukan pengeroyokan karena mereka menjadi otak pengeroyokan. Polres Bekasi Kota telah melakukan BAP kepada korban menyusul laporan keluarga korban pada dua hari yang lalu.
 
"Pada hari ini, anak saya sudah di-BAP oleh Polres Bekasi Kota menindaklanjuti laporan saya dua hari yang lalu," terang Julius W, orang tua Joseph Ezra Kinanta, korban pelaku penganiyaan tujuh orang rekan sekolahnya, Kamis (20/4).

Tindak kriminal itu terjadi pada 14 Februari 2014 dan diketahui oleh orangtua korban setelah dua saksi siswa perempuan melaporkan kepada pihak sekolah karena mengetahui rencana "pembunuhan" atas diri korban pada pekan setelah kejadian. Sementara itu, Kepsek GPS, Yuli Tan, hingga saat ini tidak mau dihubungi untuk dimintai konfirmasi


"Saya sudah mencoba menahan diri untuk tidak melaporkan secara resmi tindak penganiayaan itu kepada kepolisian yang merespon permintaan sekolah. Selain itu, GPS meminta agar peristiwa itu tidak diberitakan di media. Meski saya melakukan apa yang mereka minta, tetapi kesepakatan agar kedua anak tidak dikeluarkan belum dilaksanakan juga. Oleh karena itu, saya terpaksa sekali melaporkan secara resmi peristiwa ini agar Sekolah mengetahui akibat dari pelaporan ini," papar Julius.
 
Dilaporkan sebagai pelaku pengeroyokan Dvd (kelas 9B), Ahd alias Adt (kelas 9A), Mch (kelas 9A), Do (kelas 9A), Rzk (kelas 9C), Frrl (kelas 9B) dang Ghz (kelas 9B). Julius juga melaporkan nama-nama saksi yang berjumlah 11 orang yang juga merupakan kelas 9.  Dvd dan Ahd atau Adt diduga merupakan otak pelaku dan eksekutor dalam aksi pengeroyokan yang terjadi di Komplek Perumahan Persada Golf, Jatibening, Bekasi selama kurang lebih satu jam.
 
"Pemberitaan di media masa sepertinya dianggap angin oleh pihak sekolah. Tidak ada niat baik dari pihak sekolah untuk menyelesaikan kasus ini. Dan, bagi saya itu merupakan lampu hijau untuk melanjutkan laporan ke polisi. Biar saja sekolah yang mengurus para pelaku dan bertanggung jawab kepada orangtua masing-masing," jelas Julius lebih lanjut.
 
Tidak ada niatan baik dari sekolah, menurut Julius, sudah terlihat ketika ada laporan masuk. Ada dua siswa perempuan yang menyaksikan peristiwa itu kemudian melaporkan kepada sekolah pada 19 Februari atau lima hari setelah kejadian. Kedua saksi terpaksa melapor karena tidak menginginkan korban “dihabisi” oleh para pelaku yang rencananya dilakukan pada 21 Februari. Laporan kedua saksi itu baru ditindaklanjuti sekolah pada keesokan harinya tanpa melibatkan orangtua terlebih dahulu.
 
Dalam pertemuan 21 Februari itu, kata Julius, sekolah menganggap selesai aksi pengeroyokan itu dan sehari kemudian, sekolah memanggil orang tua korban. "Saya tidak menerima cara penyelesaian sekolah seperti itu. Yang saya tuntut adalah, dua pelaku paling brutal dikeluarkan dan pelaku lain dihukum sesuai dengan aturan yang ada.".
 
Meskipun dalam pertemuan orangtua korban dan orang tua pelaku pada 26 Februari, telah dicapai kesepakatan serta menerima sanksi dikeluarkan dari sekolah, KepSek GPS tidak segera mengambil tindakan.  Hingga 10 Maret, kedua pelaku Dvd dan Adt  tetap masuk sekolah seperti biasa dan hanya dikenakan sanksi skorsing. Ketidakseriusan GPS dalam mengambil tindakan tegas dikhawatirkan akan merembet pengulangan lagi terhadap peristiwa semacam itu.

"Silahkan untuk diaudit tentang perilaku para murid GPS serta ada tidaknya peristiwa serupa yang pernah terjadi tetapi ditutupi oleh sekolah. Saya kira ini, bukan aksi kriminal anak-anak sekolah terhadap rekannya, jika dilihat dari cara penyelesaian sekolah seperti itu," demikian Julius.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya