Berita

presiden sby/net

Politik

Jadi Jurkam, Mendagri Ogah SBY Dikatakan Tak Etis

KAMIS, 13 MARET 2014 | 06:35 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Presiden SBY resmi mengambil cuti pada pemilihan legislatif 2014. Kepala Negara cuti selama dua hari, yaitu tanggal 17 dan 18 Maret, dan sudah didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, mengatakan, cuti atasannya tersebut masih dalam tahap yang wajar dan tak perlu diributkan.

"Periode pertama (2009) kan beliau kampanye. Kok sekarang dibilang nggak etis?" ujar Gamawan kepada redaksi, Kamis (13/3).


Sebelumnya pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai, tidak ada yang salah dalam hal SBY ingin bertindak sebagai jurkamnas. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari negara demokrasi yang menganut azas multi partai. Hanya saja dipandang dari sisi etika politik, rasanya SBY tidak pantas untuk berkampanye.

"Ingat, jika SBY berpergian hak dan kewajiban selaku Presiden dan kepala negara masih melekat pada diri SBY. Akibatnya, pengamanan dan protokoler juga melekat pada diri SBY. Berapa banyak anggaran negara tersedot untuk kampanye SBY? Sebaiknya SBY duduk manis dan berkonsentrasi penuh menuntaskan amanah rakyat sebagai presiden ketimbang kampanye," ujar Ari Junaedi.

Menurut Gamawan, soal Presiden SBY dalam kampanye nanti menggunakan fasilitas negara, seperti pengamanan dan protokoler. Hal itu sudah diatur dalam UU Protokol dan PP 10/2013.

Kemarin Jurubicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, mengatakan, cuti Presiden SBY sudah dikoordinasikan bersama Wapres Boediono. Saat SBY menjalankan kampanye sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, tentu tugas-tugas Kepala Negara tidak akan terabaikan dan tetap berjalan.

"Disamping berkoordinasi dengan Wapres, Presiden SBY akan tetap mengutamakan tugasnya sebagai Presiden Republik Indonesia," ujar Julian. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya