Berita

jumhur hidayat/net

Sikap dan Langkah Jumhur Hidayat Harus Dibaca Secara Utuh

SELASA, 11 MARET 2014 | 15:29 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Sebagaimana dijamin UU, setiap warga negara memiliki hak konstitusi yang sama dalam mendukung atau memilih partai politik tertentu. Untuk itu, dukungan Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Mohammad Jumhur Hidayat kepada PDI Perjuangan pada pemilihan umum mendatang merupakan hak konstitusinya sebagai warga negara.

Karena itu, kata aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Supriadi Djae, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 11/3), mengkritik balik yang berpandangan sinis pada sikap Jumhur ini. Menurut hemat dia, kaum terpelajar Indonesia harusnya mampu membedakan mana hak konstitusi dan mana yang masuk kategori ketidakprofesionalan sebagai pejabat negara.

"Sekarang ini banyak pengamat dadakan dan aktivis karbitan yang tidak paham konstitusi. Mereka pun tidak bisa membedakan posisi sesorang dalam kapasitas sebagai warga negara yang punya hak politik sama, dengan status jabatan," kata Suja, demikian ia disapa, yang juga mantan Ketua DPP IMM.


Suja sendiri menilai, selama ini Jumhur cukup profesional. Meskipun ada beberapa persoalan terkait dengan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang masih menjadi pekerjaan rumah tangga pemerintah, namun Jumhur sudah membuktikan kinerja yang cukup baik. Satu demi satu persoalan TKI diurainya, dan yang lebih harus diberi acungan jempol adalah sikap Jumhur yang terus berusaha membuat warga Indonesia yang mau bekerja di luar negeri menjadi lebih bermartabat. Jumhur pun terus melakukan kerjasama dengan negara-negara tujuan TKI, dan di saat yang sama memperbaiki sistem layanan di internal BNP2TKI.

"Hal lain yang menarik dari Jumhur, selama menjadi pejabat, dia tetap bergaul seperti dulu, dan bahkan tetap menjadi rujukan kaum buruh dan sebagian kaum pergerakan. Dan Jumhur selalu membuka tangan dengan terbuka," jelas Suja.

Sikap Jumhur yang mendukung PDI Perjuangan, lanjut Suja, mungkin cukup aneh bagi sementara kalangan. Namun tidak demikian bila orang-orang itu mengenal lebih jauh mantan aktivis mahasiswa era 1980-an yang pernah menjadi tahanan di era Soeharto itu. Sikap dan langkah Jumhur, bila dibaca secara utuh dengan sisi kehidupannya di masa lalu, bukan bagian dari sikap plin-plan, melainkan konsistensi terhadap setiap jangkar-jangkar perjuangan yang berpihak pada rakyat.

"Jangan dilihat dulu Jumhur mendukung SBY, lalu sekarang PDIP. Bukan itu persolannya. Saat mendukung SBY dulu, saya lihat, karena Jumhur menilai SBY itu pro-rakyat dan itu terlihat jelas dari janji-janji SBY. Sekarang, ketika melihat PDI Perjuangan yang lebih pro-rakyat, ya memang pilihan mesti condong kesana. Ini bukan plin-plan, justru ini konsistensi keberpihakan pada rakyat. Mediumnya boleh apa saja, jiwanya adalah rakyat," demikian Suja. [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya