Berita

Dunia

MAS HILANG

Malaysia: Kemungkinan Pembajakan Tidak Bisa Dikesampingkan

SENIN, 10 MARET 2014 | 17:53 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kepala otoritas penerbangan sipil Malaysia, Azharuddin Abdul Rahman, menyatakan kasus hilangnya pesawat B-777 milik Malaysia Airlines (MAS) merupakan misteri penerbangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ia juga menuturkan bahwa kemungkinan pembajakan pesawat tidak bisa dikesampingkan dari eksplorasi investigasi kasus hilangnya pesawat bernomor penerbangan MH370 itu, dalam perjalanannya dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

"Sayangnya, kita tidak menemukan apapun yang muncul sebagai objek dari pesawat, apalagi pesawatnya," jelas dia dalam konferensi pers yang digelar hari ini (Senin, 10/3).


Kemungkinan adanya pembajakan tersebut muncul setelah kemarin (Minggu, 9/3) Interpol mengumumkan bahwa terdapat setidaknya dua penumpang dalam pesawat tersebut yang menggunakan paspor curian dan dokumen identitas palsu.

Dua orang penumpang tersebut menggunakan paspor dengan nama orang Eropa, yakni Christian Kozel dari Austria dan Luigi Maraldi dari Italia. Pemilik paspor tersebut sesungguhnya tidak berada di dalam pesawat. Paspor mereka dicuri di Thailand hampir dua tahun terakhir. Hal tersebut terungkap setelah dilakukan pengecekan identitas penumpang pesawat.

"Meskipun terlalu dini untuk berspekulasi tentang hubungan antara paspor dicuri dan pesawat yang hilang, secara jelas merupakan keprihatinan besar bahwa penumpang bisa naik penerbangan internasional menggunakan paspor yang dicuri," kata Sekretaris Jenderal Interpol, Ronald Noble.

Sementara itu, Kantor Berita Malaysia mengutip ucapan Menteri Dalam Negeri Ahmad Zahid Hamidi yang menyebut bahwa dua penumpang pengguna paspor curian tersebut memiliki tampilan fisik layaknya orang Asia.

"Saya masih bingung. Tidak bisakah petugas imigrasi berpikir? Warga Italia dan Austria namun berwajah Asia?" ucapnya, pada Minggu petang.

Sementara itu, hingga saat ini pencarian jejak hilangnya pesawat jenis Boeing 777-200 yang mengangkut 239 penumpang tersebut masih dilakukan secara besar-besaran baik melalui laut ataupun udara. Sekitar tujuh negara mengerahkan puluhan kapal laut dan pesawat ataupun helikopter untuk menjelajahi wilayah perairan sekitar Malaysia dan Vietnam Selatan, di mana radar terakhir dari pesawat tersebut terdeteksi sebelum akhirnya menghilang.

Salah satu negara yang membantu mengerahkan bantuan adalah Amerika Serikat. Juru bicara Armada 7 Amerika Serikat, Komandan William Marks, menyatakan bahwa pihaknya mengerahkan pesawat yang dapat menjangkau 1.500 mil persegi setiap jam dan membantu menyapu kawasan perairan bagian utara Selat Malaka. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda ditemukannya jejak pesawat tersebut.

"Pesawat kami mampu mendeteksi dengan jelas puing-puing kecil di air, tapi sejauh ini yang ada adalah sampah dan kayu," kata Marks seperti dilansir Reuters. [ald]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya