Jusuf Kalla mengkritisi cara-cara yang ditempuh para calon legislatif dalam mengenalkan diri ke pemilih untuk bisa memenangi pemilihan 9 April mendatang.
Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menilai cara-cara sepertu menebar baligho, memasang gambar di tempat-tempat umum dan membagikan kartu nama, kurang efektif dilakukan karena masyarakat akan kesulitan mengingat satu persatu foto-foto kampanye tersebut.
"Untuk menang dalam pemilu kebanyakan menggunakan cara yang sama, buat baligho, pasang gambar dan bagi kartu nama. Hitungan saya, dalam satu dapil ada 1600 foto, bagaimana rakyat bisa ingat dan memilihnya," kata JK, demikian Jusuf Kalla disapa, dalam acara Pembekalan Caleg Golkar Se-Sulawesi Selatan, di Makassar, Minggu (9/3).
JK menyarankan para caleg untuk mengikut jejak Mantan Presiden Gus Dur dan Gubernur Jakarta Jokowi. Menurut JK, Gus Dur dan Jokowi dicintai dan diidolakan oleh rakyat karena dua-duanya dekat dengan rakyat. Keduanya mampu turun langsung menyapa rakyat, memberikan sesuatu yang nyata bukan bayang-bayang semata.
JK menegaskan, caleg yang tidak pernah turun ke masyarakat merupakan caleg yang hanya menjadi bayang-bayang saja di masyarakat, sehingga sulit untuk diingat apalagi dipilih.
"Kenapa Gus Dur dan Jokowi diidolakan rakyat? Karena mereka dekat dengan rakyat. Rakyat butuh yang nyata, bukan bayang-bayang saja," tukasnya.
[dem]