Keluarga dari legenda balap mobil F1, Michael Schumacher, telah dikabarkan oleh tim dokter mengenai adanya harapan sembuh mantan pembalap dunia bernama tenar Schumi itu.
Namun, seperti dilansir Daily Mail pada Jumat (7/3), tetap saja dokter menyebut bahwa hanya keajaiban yang dapat menyelamatkannya.
Penyandang tujuh gelar grand prix tersebut telah terbaring koma untuk jangka waktu lebih dari dua bulan setelah mengalami luka otak akibat kecelakaan ski pada 29 Desember tahun lalu.
Berita resmi mengenai kondisi Schumi saat ini sangat minim, namun tim manajemen Schumi yang dipimpin oleh jurubicaranya, Sabine Kehm, bersikeras menyatakan bahwa Schumi tetap sadar selama fase pengobatannya.
Minggu ini adalah salah satu momen vital bagi Schumi setelah dua bulan lebih dalam keadaan koma. Fungsi otaknya diperlambat sehingga memungkinkannya untuk sembuh lebih cepat. Dokter yang merawatnya berharap Schumi dapat memberikan tanda bahwa ia menyadari lingkungan sekitarnya. Tim dokter menyebut bahwa mereka menanti tanda yang lebih dari kedutan saraf refleks, seperti gerakan kelompak mata atau gerakan jari.
Dalam perawatannya, setiap tiga kali sehari sendi dan otot Schumi dipijat untuk mencegah atrophia atau terhentinya pertumbuhan serta luka akibat terlalu lama di tempat tidur.
Namun kondisi koma yang dialami Schumi telah menekan refleksnya untuk menelan, persepsi nyeri, serta dorongan pernafasannya. Sehingga ia harus dipantau ketat untuk mengetahui apakah hal-hal tersebut dapat dilakukannya secara alami.
Para pakar menyebut bahwa hal tersebut bisa jadi risiko terbesar dari yang dialami Schumi. Ia dikhawatirkan mengalami pneumonia akibat kurangnya mekanisme menelan, yang membuat air liurnya masuk ke paru-paru dan memicu gangguan pernafasan yang berpotensi merenggut nyawanya.
Selain itu, untuk menjaga aliran darahnya tetap lancar, posisinya secara teratur dibalikkan dan kadang ditegakkan berdiri beberapa kali. Schumi sendiri dibaringkan di atas kasur berisi udara khusus untuk mencegah luka akibat tekanan.
[ald]