Berita

Indonesia Butuh Pemimpin yang Mampu Meredistribusi Kekayaan

JUMAT, 07 MARET 2014 | 23:33 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Gemuruh pembangunan ekonomi Indonesia tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyat. Jika paradoks ekonomi ini tak segera ditangani bisa menjelma sebagai bom waktu yang sangat serius.

Demikian dijelaskan Calon Presiden Konvensi Partai Demokrat Ali Masykur Musa dalam Seminar Dewan Guru Besar Universitas Indonesia di Salemba Jakarta, Jum'at (7/3).

"Indonesia adalah Negara yang sangat kaya. Keberhasilan pembangunan yang ditandai meningkatkanya pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya menyentuh sektor riil sehingga angka kemiskinan terus bertambah. Jika dikelola dengan benar Indonesia mampu menjalankan operasional Negara dan menyejahterakan masyarakat dengan kekayaan yang dimilikinya," terang Cak Ali, panggilan akrabnya.


Anggota Badan Pemeriksa Keuangan RI ini menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang dinikmati dalam satu dekade terakhir sebenarnya telah menempatkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-16 di dunia dengan PDB mencapai Rp 9.084 triliun pada 2013. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi masih terpusat di Jawa dan Sumatera dengan menguasai total 82% PDB Indonesia, jauh meninggalkan kawasan timur Indonesia yang hanya menempati 18%.

"Bisa diartikan besarnya kue ekonomi ini tidak dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia," jelasnya.

Akibatnya, lanjut Cak Ali, untuk pertama kalinya, Gini Rasio Indonesia belum lama ini masuk di angka 0,41 yang termasuk dalam ketimpangan menengah. Juga, kesenjangan akut tampak dari penguasaan kue ekonomi, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia mencapai Rp 680 triliun atau 71,3 miliar dolar AS, setara 10,3% PDB Indonesia. Atau, jumlah kekayaan 40 orang itu setara dengan kekayaan 15 juta keluarga atau 60 juta jiwa paling miskin.

Menghadapi kesenjangan, Cak Ali mengungkapkan bahwa hal tersebut adalah tantangan pemimpin Indonesia kedepan. Indonesia memerlukan pemimpin yang mampu mengusung prinsip kesejahteraan berkeadilan dengan meningkatkan kebijakan pro poor.

"Pemimpin kedepan harus memprioritaskan sektor pertanian dan industri sebagai lokomotif pembangunan sehingga memiliki dampak yang besar terhadap penciptaan lapangan kerja, pegurangan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan. Selain itu, subsidi kepada rakyat harus tetap dilakukan sebagai penyangga ekonomi. Namun harus dilakukan secara langsung dan tepat sasaran. Strategi inilah yang harus dikawal," tegas Capres dengan Visi Indonesia Adil, Makmur, dan ber-Martabat ini.[dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya