Berita

gus dur/net

Pertahanan

Tidak Seperti Gus Dur, Kenapa SBY-Boediono Seolah Ketakutan?

SENIN, 03 MARET 2014 | 16:28 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pembentukan Grup D Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dianggap berlebihan. Grup ini diperuntukkan khusus menjaga keamanan mantan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya.

"Ini terlampau berlebihan, karena selama ini mantan presiden dan wapres tetap dikawal walaupun dengan jumlah yang kecil dan tidak pernah terjadi insiden apa pun seperti pengawalan terhadap mantan presiden BJ Habibie, Almarhum Abdurahman Wahid (Gus Dur ) dan Megawati," kata aktivis Gerakan Indonesia Bersih, Ahmad Kasino, dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi beberapa saat lalu (Senin, 3/3).

Lagipula, tambah Kasino, sejauh ini publik belum pernah mendengar ada ancaman keamanan terhadap para mantan presiden dan wakil presiden. Kalau pembentukan grup ini muncul pada era SBY-Boediono, berarti ada sesuatu yang membuatnya terwujud dan akhirnya mengorbankan lagi anggaran negara untuk kepentingan yang kurang prioritas.


"Ini mengindikasikan bahwa SBY-Boediono khawatir terhadap keselamatan dirinya beserta keluarganya dan secara psikologi mereka terancam," ucap Kasino.

Ia menduga, SBY-Boediono bersama banyak pejabat lain merasa belum bersih dari banyak kasus besar seperti perkara korupsi Century, Hambalang dan beberapa kasus lain. Rezim ini khawatir terhadap keselamatan dirinya sendiri.

"Harusnya tidak perlu takut. Kalau kebijakan mereka selama ini pro terhadap rakyat, maka rakyat-lah yang akan melindungi mereka," tegas Kasino.

Ia memberi contoh Gus Dur yang setelah tidak menjabat sebagai Presiden dengan mudahnya berkeliling Indonesia tanpa pengawalan ketat. Gus Dur bisa berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat seakan tanpa jarak.

"Negarawan tidak akan pernah takut ancaman terhadap dirinya. Negarawan selalu berdiri di atas cita-cita untuk kebaikan dan kemajuan bangsanya," tutup Kasino. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kejagung Diminta Awasi Ekstra Proyek Pembangunan IKN

Selasa, 22 September 2026 | 22:15

Suahasil Beberkan Tiga Jurus Perkuat Pengawasan Bea Cukai, Apa Saja?

Selasa, 22 September 2026 | 21:51

KPK Didesak Periksa Nusron agar Tak Muncul Spekulasi Liar

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Jangan Omon-omon, Pelaksanaan MBG Harus Dipersempit ke Daerah 3T

Selasa, 22 September 2026 | 21:21

Raja Juli Sepi, Muncul Nusron

Selasa, 22 September 2026 | 21:12

Pakai Amine System, SP-ABG Pertamina Turunkan CO2 pada Gas jadi 5%

Selasa, 22 September 2026 | 21:07

Selebgram Jule Hanya Pemakai Etomidate, Bukan Pengedar

Selasa, 22 September 2026 | 20:54

Wacana Pencalonan Presiden-Wapres Cukup Didukung Dua Fraksi Ingkari Putusan MK

Selasa, 22 September 2026 | 20:36

KPK Kembali Sita Mobil Vinna Ledy Anggraheni Hasil Pemberian Pengusaha

Selasa, 22 September 2026 | 20:18

Swing Voters dan Pilkades Bekasi 2026

Selasa, 22 September 2026 | 19:59

Selengkapnya