Berita

Rizal Ramli

Rizal Ramli Presiden, Kesepakatan Pasar Bebas Asia Tenggara Direvisi

SABTU, 01 MARET 2014 | 19:02 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Indonesia harus berani mengambil langkah melakukan negosiasi ulang kerjasama pasar bebas negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN Economic Community (AEC). Langkah ini harus dilakukan agar Indonesia dengan 230 juta penduduk tidak menjadi pasar empuk produk dan jasa negara-negara ASEAN.

"Saya jadi presiden, akan saya revisi butir-butir AEC. Dalam beberapa sektor kita kuat tapi secara umum kita belum siap bersaing. Ada banyak sektor yang masih lemah sehingga bila mengikuti kesepakatan AEC, kita akan terpukul," ujar Calon Presiden Konvensi Rakyat, DR. Rizal Ramli dalam seminar bertajuk "Peran Masyarakat dan Mahasiswa dalam Menghadapi Asean Economy Community 2015" di Aula Kampus Baru SetiaBudi UNPAS Bandung, Sabtu (1/2).

Dicontohkan ekonom senior Indonesia ini, tekstil dan produk tekstil Indonesia unggul untuk kawasan ASEAN. Begitu juga dengan minyak kelapa sawit atau crude palm oil dan kakao. Untuk sektor-sektor unggulan semacam ini Indonesia tidak masalah dibuka sebebas-bebasnya.


Tapi untuk makro ekonomi sebaiknya jangan dilakukan dulu. Bank-bank kita yang sepintas seperti kuat, ternyata meraih untung besar karena tingginya spread antara cost of money dengan suku bunga kredit. Jika sektor keuangan dibebaskan, bisa dipastikan akan banyak menimbulkan masalah.

"Untuk hal-hal yang prinsipil menyangkut  financial jangan gegabah dulu. Saya kira tidak bagus bila kita serahkan pengaturan keuangan, moneter, dan anggaran ke pihak lain. Kalau diserahkan ke pihak lain,  maka negara tidak punya kekuatan dan kekuasaan lagi mengatur ekonomi negaranya secara mandiri," papar Menko Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur itu.

Menurut dia sebagai negara berkembang, Indonesia bukan hanya memerlukan pasar bebas tapi juga pasar yang fair (adil). Untuk sektor-sektor yang kuat tidak masalah agar dibuka sebebas-bebasnya, namun menyangkut sektor-sektor yang lemah negara harus memberikan proteksi.

"Inilah yang dilakukan Amerika Serikat. Menyangkut sektor yang lemah mereka tidak mau bebas-bebasan. Contohnya untuk tekstil dan tenaga kerja. Karena lemah, mereka tidak membuka agar dibebas-bebaskan, tapi memberikan perlindungan," demikian penasihat ahli ekonomi PBB ini.[zul]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya