Berita

Lambang Krimea

Dunia

Ukraina Kecam Provokasi Rusia

SABTU, 01 MARET 2014 | 09:52 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ukraina mengecam pengerahan pasukan Rusia di Krimea sebagai bentuk provokasi. Kecaman itu disampaikan pejabat Presiden Ukraina Oleksander Turchynov. Menurutnya pengrahan pasukan Rusia di Krimea adalah undangan ke arah konflik bersenjata.

Krimea adalah sebuah republik otonomi milik Ukraina. Ia terletak di selatan Ukraina berbatasan langsung dengan Laut Hitam di selatan dan wilayah Rusia di timur.

Walau berada di bawah Ukraina sejak Uni Soviet bubar, masyarakat Krimea yang diperkirakan berjumlah 1,9 juta itu secara umum terbelah. Sebagian masih menginginkan Krimea meninggalkan Ukraina dan kembali ke pangkuan Rusia.


Rabu lalu (26/2) ribuan anggota masyarakat pro Rusia terlibat bentrokan dengan kelompok pendukung Ukraina. Menyusul bentrokan itu, Jumat kemarin (28/2) tentara Rusia yang tidak dapat diidentifikasi dengan pasti tampak hilir mudik di sejumlah fasilitas penting Krimea, seperti di bandara Simferopol dan bandara Sevastopol.

Pengerahan pasukan ini adalah bagian dari perintah Presiden Rusia Vladimir Putin menempatkan 150 ribu tentara di perbatasan kedua negara.

Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pejabat Presiden Ukraina Oleksander Turchynov mengatakan provokasi Rusia itu untuk memancing Ukraina sehingga akhirnya Rusia akan memiliki alasan menguasai Krimea sepenuhnya.

Oleksander Turchynov mengingatkan, manuver Rusia ini sama seperti yang pernah dilakukan Rusia pada tahun 2008 terhadap Georgia dalam kasus di Abkhazia dan Ossetia Selatan. Kedua wilayah di Georgia itu pun memiliki penduduk suku Rusia dalam jumlah besar.

Oleksander Turchynov diangkat sebagai pejabat presiden akhir pekan lalu (Sabtu, 22/2) setelah parlemen Ukraina memecat Viktor Yanukovych yang pro pada Rusia.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama ikut memperingatkan Rusia agar tidak bermain api.

Dalam sebuah pernyataan dia mengatakan, setiap pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas teritori Ukraina akan menciptakan ketidakstabilan yang tidak diinginkan Ukraina, Rusia dan Eropa.

Obama juga mengatakan, mendukung pemerintahan sementara Ukraina, dan berharap dunia internasional memiliki sikap yang sama. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Kapolri Resmikan Laboratorium Uji Seragam untuk Tingkatkan Perlindungan

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:17

MK Tolak Gugatan UU IKN, Ibu Kota RI Tetap Jakarta

Rabu, 13 Mei 2026 | 00:00

Menhut Gaungkan Pengakuan Hutan Adat di Markas PBB

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:39

Rupiah Babak Belur, BI Kembali Sebut Kebutuhan Dolar Membludak

Selasa, 12 Mei 2026 | 23:12

Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Diduga jadi Kaki Tangan Bandar Narkoba Kelas Kakap

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:49

Laut dan Manusia Harus Saling Menjaga

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:39

Bleng-Blengan Sawah Blora, Cara Lama Petani Usir Tikus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:28

Peradilan Berjalan, GMNI Tetap Minta Dibentuk TGPF Kasus Andrie Yunus

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:16

Menkop dan Wakil Panglima Kompak Kawal Operasional Kopdes

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:10

Masa Depan Hotel Mewah dan Pariwisata di Indonesia Tourism Xchange 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 22:01

Selengkapnya