. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, China dan Taiwan membuat gebrakan baru di tengah kebekuan hubungan diplomatik sejak 65 tahun yang lalu. Keduanya mengalami ketegangan sejak berakhirnya perang sipil tahun 1949 di China.
Pasca perang, Partai Komunis China menguasai China daratan (mainland) dan memproklamirkan nama Republik Rakyat China atau disebut juga Republik Rakyat Tiongkok. Sementara itu, Partai Kuomintang atau Partai Nasionalis menduduki pulau Taiwan beserta sejumlah pulau di sekitarnya dan membentuk Republik China atau biasa juga disebut Taiwan. Sejak saat itu, hubungan kedua negara lebih bahyak diliputi oleh ketegangan.
Namun ketegangan hubungan tersebut mulai dicairkan pada 18 Februari lalu ketika Sekretaris Jenderal Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping dan Ketua Kehormatan Partai Kuomintang Lien Chan bersama sejumlah pejabat lainnya menggelar pertemuan di Wisma Negara Diaoyutai Beijing, China.
Dalam pertemuan tersebut kedua negara membahas sejumlah masalah termasuk ketegangan hubungan diplomatik serta upaya untuk memperbaikinya. Sekalipun menyebut bahwa masalah tersebut tidak mudah untuk diselesaikan bila merujuk pada sebab sejarah dan perkembangannya hingga saat ini, namun Xi Jinping dan Lien Chan menekankan adanya harapan untuk mengembangkan perdamaian mengingat keduanya memiliki nenek moyang yang sama, budaya yang sama dan bahkan harapan yang sama untuk menuju perubahan.
Hal tersebut menunjukkan adanya arah yang sama dari kedua negara untuk membentuk 'satu China'.
"Meski baru permulaan sejak 1949 berpisah, keduanya mengarah pada keinginan satu China. Walau jalan ke arah sana tidak akan mudah," kata pemerhati masalah China dan Asia Timur, Ign. Yophiandi kepada redaksi belum lama ini.
Yophiandi menilai bahwa kedatangan Lien Chan ke Beijing untuk menemui pemimpin tertinggi Xi Jinping itu bisa mengindikasikan adanya persetujuan dari partai penguasa kedua belah pihak atas proses pengembangan perdamaian menuju penyatuan kedua negara.
"Kedatangan ketua kehormatan partai Kuomintang Lien Chan yang menyertakan pejabat dan pengusaha Taiwan merupakan tanda bahwa partai penguasa 'merestui' langkah politik ini," jelas Yophiandi.
"Apalagi pertemuan langsung dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping," lanjutnya.
Indikasi tersebut, jelas Yophandi, didasarkan pada peranan penting Lien Chan dan Xi Jinping dalam partai penguasa yang mengendalikan arah politik masing-masing negara.
Kedatangan kedua pemimpin partai penguasa sebelumnya didahului oleh pertemuan pejabat reunifikasi kedua negara yakni ketua dewan urusan Tiongkok Wang Yu Chi dan direktur kantor urusan Taiwan Zhang Zhiyu pada 11 Februari di bekas ibukota Kuomintang, Nanjing.
[ysa]