Berita

istimewa

Politik

Siapa Presiden Tukang Jalan-jalan, SBY atau Gus Dur?

SABTU, 22 FEBRUARI 2014 | 18:24 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ekonom senior DR. Rizal Ramli mengkritik keras besarnya biaya perjalanan dinas Pemerintahan SBY-Boediono. Menurutnya, terjadi peningkatan biaya perjalanan dinas pejabat yang sangat besar tetapi kenaikan tersebut tidak sebanding dengan peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Pada tahun 2004 biaya perjalanan dinas hanya Rp 4 triliun, tahun ini naik lebih dari lima kali lipatnya. Harusnya kenaikan biaya pejalanan dinas sejalan dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. Tapi kesejahteraan rakyat saat ini biasa-biasa saja. Tidak ada perbaikan berarti," ujar dia saat memberi Orasi Ilmiah bertema 'Prospek Ekonomi Indonesia Masa Depan' di Kampus Al Ma'soem, Rancaekek, Bandung (Sabtu, 22/2).

Menurut Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini biaya perjalanan dinas sebesar Rp 23 triliun dalam komposisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2014 sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa alokasi anggaran perjalanan dinas pejabat lebih besar dibandingkan biaya untuk sektor pertanian yang hanya Rp 15,5 triliun, padahal 40 persen rakyat hidup di sektor ini.


"Dulu Gus Dur disebut presiden tukang jalan-jalan. Pada saat Gus Dur berkuasa biaya perjalanan dinas untuk eksekutif dan legislatif hanya Rp 2,5 triliun. Sekarang biayanya Rp 23 triliun. Siapa sebenarnya yang tukang jalan-jalan?" ucap Rizal Ramli.

Pemimpin ke depan, kata penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini, harus mengubah politik anggaran yang dijalankan pemerintah saat ini. Biaya sektor pertanian sudah seharusnya lebih besar dibanding biaya perjalanan pejabat. Tanpa APBN yang memihak kepada petani, sudah tentu kita akan sulit mewujudkan kesejahteraan bagi para petani dan pada akhirnya sulit mewujudkan swasembada pangan.

Rizal Ramli yang juga merupakan Calon Presiden paling ideal versi The President Centre (TPC) juga mengkritik politik anggaran yang dijalankan pemerintahan daerah. Sama seperti pemerintah pusat, sebagian besar pemerintah daerah mengalokasikan 70 persen APBD-nya untuk membiayai eksekutif dan DPRD. Dari 420 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, menurut dia, memang ada kepala daerah yang berhasil membangun daerahnya karena menjalankan politik anggaran sebaliknya. Tetapi, jumlah kepala daerah seperti ini kurang dari 30 orang.

"Kita harus ubah politik anggaran seperti ini supaya mayoritas APBD untuk rakyat. Kalau kita ubah, rakyat akan benar-benar merasakan manfaat," pungkas peserta Konvensi Rakyat Capres 2014 yang akrab disapa RR1 ini. [ian]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya