. Menjadi ayah di usia tua akan dapat memberikan risiko lebih besar bagi anak kandungnya.
Pasalnya, semakin lama seorang pria menunda waktu untuk menjadi ayah, maka semakin besar kemungkinan sperma yang dimilikinya menjadi mutan (telah mengalami proses mutasi). Hal tersebut menimbulkan risiko yang lebih besar untuk memiliki anak dengan gangguan seperti autisme atau skizofrenia.
Hal tersebut terungkap dalam penelitian baru-baru ini yang dipublikasikan di jurnal Nature seperti dilansir Daily Mail pada Jumat (21/2).
Dalam penelitian ditemukan bahwa sama seperti kekuatan memori dan elastisitas kulit, kualitas sperma pria juga mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.
Ahli genetika klinis dari Universitas Oxford, Professor Andrew Wilkie menjelaskan bahwa tidak seperti wanita yang dilahirkan dengan perangkat lengkap sel telur, pria terus menerus membuat sperma baru sepanjang hidupnya.
Setiap 16 hari, sel-sel di testikel membelah dan DNA dalam setiap sel disalin ke sel yang baru untuk kemudian digunakan untuk membuat sperma baru.
Tubuh memiliki keakuratan yang tinggi dalam membuat salinan DNA yang sama persis. Namun kadang proses penyalinan tersebut juga terjadi secara abnormal akibat beberapa faktor. Hal itu membuat sejumlah sperma yang dihasilkan akan mengandung kesalahan DNA atau yang lebih dikenal dengan mutasi genetik.
Semakin bertambahnya usia seorang pria, maka proses penyalinan akan semakin lelah dan kurang efisien, sehingga sperma yang dihasilkannya akan memiliki lebih banyak mutasi.
Dan jika sperma mutasi itu kemudian digunakan untuk membentuk janin, maka ada lebih banyak peluang masalah dalam perkembangannya.
"Ini adalah permainan kesempatan. Mungkin mutasi itu tidak muncul di tempat yang kritis. Tapi terkadang permainan kesempatan melawan anda dan mutasi menabrak gen yang akan membawa atau mempengaruhi anak anda dalam kondisi tertentu," jelas Professor Wilkie.
Jika mutasi tersebut terdapat dalam gen untuk mengontrol pengembangan otak, jelas Professor Wilkie memberi contoh, maka bisa menyebabkan autisme dan skizofrenia.
Bila mutasi muncul di gen yang berpotensi menyebabkan risiko jenis kanker, maka bisa meningkatkan peluang anak tersebut memiliki penyakit tersebut di kemudian hari.
Selain itu, jelasnya, hal tersebut juga berpotensi memunculkan sindrom Apert pada anak. Sindrom Apert adalah gangguan tulang yang langka yang salah satunya akibatnya dapat membuat kepala memanjang pada anak-anak.
Oleh karena itu, para ilmuan memperingatkan bahwa pria berusia 40 tahunan memiliki peluang dua kali lipat untuk mewariskan mutasi genetik yang berpotensi memicu penyakit di dalam tubuh anak.
Penelitian tersebut dilakukan dengan mengurut DNA dari 28 orang tua dan anak-anak mereka di Islandia dan menemukan hubungan langsung antara usia ayah dan jumlah mutasi yang terkait dengan spektrum gangguan autisme dan skizofernia dalam DNA anak.
Sementara itu, usia ibu justru tidak mempengaruhi risiko dalam tubuh anak. Tim peneliti menemukan bahwa 97 persen dari keseluruhan mutasi DNA anak berasal dari ayah mereka.
"Masyarakat secara tradisional telah sangat fokus pada usia ibu," kata ilmuan yang memimpin penelitian tersebut Dr Kari Stefansson yang berasal dari perusahaan riset genetik terkemuka, Decode Genetics.
"Tapi itu nampaknya gangguan seperti skizofrenia dan autisme sesungguhnya dipengaruhi oleh usia ayah dan bukan ibu," jelasnya.
[ysa]