Berita

ilustrasi/net

Menjadi Ayah di Usia Tua, Tingkatkan Risiko Gangguan Pada Anak

SABTU, 22 FEBRUARI 2014 | 15:58 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. Menjadi ayah di usia tua akan dapat memberikan risiko lebih besar bagi anak kandungnya.

Pasalnya, semakin lama seorang pria menunda waktu untuk menjadi ayah, maka semakin besar kemungkinan sperma yang dimilikinya menjadi mutan (telah mengalami proses mutasi). Hal tersebut menimbulkan risiko yang lebih besar untuk memiliki anak dengan gangguan seperti autisme atau skizofrenia.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian baru-baru ini yang dipublikasikan di jurnal Nature seperti dilansir Daily Mail pada Jumat (21/2).


Dalam penelitian ditemukan bahwa sama seperti kekuatan memori dan elastisitas kulit, kualitas sperma pria juga mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.

Ahli genetika klinis dari Universitas Oxford, Professor Andrew Wilkie menjelaskan bahwa tidak seperti wanita yang dilahirkan dengan perangkat lengkap sel telur, pria terus menerus membuat sperma baru sepanjang hidupnya.

Setiap 16 hari, sel-sel di testikel membelah dan DNA dalam setiap sel disalin ke sel yang baru untuk kemudian digunakan untuk membuat sperma baru.

Tubuh memiliki keakuratan yang tinggi dalam membuat salinan DNA yang sama persis. Namun kadang proses penyalinan tersebut juga terjadi secara abnormal akibat beberapa faktor. Hal itu membuat sejumlah sperma yang dihasilkan akan mengandung kesalahan DNA atau yang lebih dikenal dengan mutasi genetik.

Semakin bertambahnya usia seorang pria, maka proses penyalinan akan semakin lelah dan kurang efisien, sehingga sperma yang dihasilkannya akan memiliki lebih banyak mutasi.

Dan jika sperma mutasi itu kemudian digunakan untuk membentuk janin, maka ada lebih banyak peluang masalah dalam perkembangannya.

"Ini adalah permainan kesempatan. Mungkin mutasi itu tidak muncul di tempat yang kritis. Tapi terkadang permainan kesempatan melawan anda dan mutasi menabrak gen yang akan membawa atau mempengaruhi anak anda dalam kondisi tertentu," jelas Professor Wilkie.

Jika mutasi tersebut terdapat dalam gen untuk mengontrol pengembangan otak, jelas  Professor Wilkie memberi contoh, maka bisa menyebabkan autisme dan skizofrenia.

Bila mutasi muncul di gen yang berpotensi menyebabkan risiko jenis kanker, maka bisa meningkatkan peluang anak tersebut memiliki penyakit tersebut di kemudian hari.

Selain itu, jelasnya, hal tersebut juga berpotensi memunculkan sindrom Apert pada anak. Sindrom Apert adalah gangguan tulang yang langka yang salah satunya akibatnya dapat membuat kepala memanjang pada anak-anak.

Oleh karena itu, para ilmuan memperingatkan bahwa pria berusia 40 tahunan memiliki peluang dua kali lipat untuk mewariskan mutasi genetik yang berpotensi memicu penyakit di dalam tubuh anak.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengurut DNA dari 28 orang tua dan anak-anak mereka di Islandia dan menemukan hubungan langsung antara usia ayah dan jumlah mutasi yang terkait dengan spektrum gangguan autisme dan skizofernia dalam DNA anak.

Sementara itu, usia ibu justru tidak mempengaruhi risiko dalam tubuh anak. Tim peneliti menemukan bahwa 97 persen dari keseluruhan mutasi DNA anak berasal dari ayah mereka.

"Masyarakat secara tradisional telah sangat fokus pada usia ibu," kata ilmuan yang memimpin penelitian tersebut Dr Kari Stefansson yang berasal dari perusahaan riset genetik terkemuka, Decode Genetics.

"Tapi itu nampaknya gangguan seperti skizofrenia dan autisme sesungguhnya dipengaruhi oleh usia ayah dan bukan ibu," jelasnya. [ysa]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya