Berita

maduro/net

Maduro Tantang Obama Debat dengan Penuh Kejujuran

SABTU, 22 FEBRUARI 2014 | 10:32 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. Presiden Venezuela Nicolas Maduro menantang Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk berdebat secara langsung di tengah protes keras anti pemerintahan dan ketegangan hubungan kedua negara.

"Saya menyerukan dialog dengan anda, Barack Obama, antara partiotik dan revolusioner Venezuela dan Amerika Serikat dan pemerintahannya," kata MAduro seperti dilansir AFP pada Sabtu (22/2).

Maduro menyerukan agar Obama menerima tantangan ini dengan membahas masalah hubungan kedua negara dalam meja perundingan.


"Terima tantangan dan kita akan memulai dialog tingkat tinggi dan menempatkan kejujuran di meja," kata Maduro kepada jurnalis asing.

Maduro juga menyebut bahwa dirinya bersedia mengangkat kembali seorang duta besar Venezuela untuk ditempatkan di Amerika Serikat.

"(Amerika Serikat) telah memberikan lampu hijau untuk menggulingkan pemeintahan yang saya pimpin," kata Maduro sambil menyerukan agar Obama menunjukkan bahwa ia dapat melakukan perubahan kebijakan setidaknya di Amerika Latin dan Karibia.

Seruan Maduro tersebut muncul setelah terjadi eskalasi gelombang protes anti pemeirntahan di Venezuela.

Pemerintahan Maduro menyebut bahwa Amerika Serikat telah melakukan intervensi dalam protes tersebut dengan tujuan untuk menggulingkan Maduro dari kursi presiden. Tudingan tersebut muncul setelah sejumlah diplomat Amerika Serikat diduga memberikan bantuan dan pendanaan bagi pemuda dan pelajar agar menggelar aksi demo di jalanan Venezuela. Hal itu menyebabkan tiga diplomat Amerika Serikat diusir dari Venezuela awal minggu ini.

Maduro juga menuding bahwa tokoh sentral oposisi yang menggerakkan massa, Leopoldo Lopez telah didukung Amerika Serikat. Lopez telah menyerahkan diri pada Selasa (18/2) dan ditahan di penjara militer Venezuela.

Gelombang protes yang berujung pada tindak kekerasan yang telah berlangsung hampir tiga minggu di Venezuela mayoritas diisi oleh pemuda dan pelajar. Hingga hari Jumat (21/2) telah menewaskan delapan orang, melukai setidaknya 137 orang, dan menahan 100 orang yang dianggap bertanggungjawab atas kekerasan yang terjadi. Protes menyerukan agar pemerintah bertanggung jawab atas memburuknya kondisi ekonomi, meralelanya kejahatan, meningkatnya korupsi dan berkurangnya prospek pekerjaan di Venezuela. [ysa]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya