Tokoh agama Hindu India Brahmarsi A. Sounderarajan Swamy menilai alam di Indonesia sedang kurang seimbang. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena kesalahan manusia dan pemimpin yang dipilihnya dalam mengelola kehidupan mereka dan hubungan mereka dengan alam.
"Ketidakseimbangan berakibat munculnya bencana. Banjir di perkotaan karena pemerintah gagal membangun dan mengelola kota, banjir di pedesaan karena penggundulan hutan yang tidak bertanggung jawab," kata Sounderarajan dalam keterangan pers yang diterima redaksi (Kamis, 20/2).
Menurutnya, dalam ajaran Hindu dipercaya bahwa alam semesta akan selalu mencari cara menuju keseimbangan. Seperti halnya reaksi alam yang berasaskan keseimbangan dari setiap rumus dan persamaannya.
Sounderarajan yang beberapa hari ini tengah bermeditasi di tanah air mengimbau agar rakyat Indonesia yang sadar dan peduli agar bangkit berusaha untuk masa depan yang lebih baik untuk semua termasuk alam.
"Seperti halnya bumi dianggap ibu dengan sebutan 'Gaia', Indonesia juga dianggap sebagai ibu dengan 'Ibu Pertiwi'-nya dan dalam ajaran Hindu pun ada yang disebut ‘Bhu-Devi’. Mungkin Indonesia dan rakyatnya memerlukan pemimpin yang mengerti rakyat dan alamnya seperti seorang ibu yang mengerti anaknya ketika bersedih dan kesusahan," jelas Sounderarajan.
Sounderarajan juga menyampaikan bahwa suatu negara dengan pemerintahannya secara langsung maupun tidak langsung bertanggung jawab terhadap keselarasan manusia dengan alamnya.
"Saya seakan merasa ketika saya bermeditasi bahwa negara ini memerlukan masa depan yang disiapkan oleh seorang seperti Buma Dewi atau Ibu Pertiwi yang lebih welas asih, bijak dan dapat merasakan penderitaan rakyat karena dia pernah mengalami derita seorang ibu," jelasnya.
Sounderarajan menyampaikan banyak sekali kemalangan di dunia ini diakibatkan oleh manusia dan para pemimpinnya yang tidak mampu memimpin karena tidak sadar dan tidak memiliki konsep yang jelas dalam mengelola kehidupan rakyatnya bersama alam yang mereka tinggali. Berkali-kali dia mengingatkan kepada jemaah dan kawan-kawannya di Indonesia agar jangan melupakan pentingnya mereka menciptakan keseimbangan dengan alam dan pihak yang mengelola atau memimpin mereka.
"Negara ini dapat dipulihkan dari berbagai kemalangan bila dipimpin dan diayomi oleh seorang yang mengerti ‘Ibu Pertiwi’ seperti anaknya sendiri serta mungkin memang harus oleh seorang ibu," katanya.
[dem]