. Human Right Watch (HRW) melansir laporan mengenai dugaan penggunaan gugus roket mesiu oleh pasukan pemerintah Suriah dalam penyerangan di kota Keferzita, bagian utara Hama Suriah pada 12-13 Februari lalu.
Dalam laporan yang dilansir hari ini (Rabu, 19/2) di situs resminya, HRW menyebut bahwa indikasi penggunaan gugus roket mesiu tersebut ditemukan dari sekumpulan bukti yang dikumpulkan oleh aktivis lokal yang disebut tidak berafiliasi dengan kelompok pemberontak.
Roket yang digunakan adalah tipe yang paling besar dari gugus roket mesiu yang pernah digunakan di Suriah dan mengandung sub mesiu yang lebih kuat dan mematikan dari pada tipe lainnya.
"Ini menggemparkan bahwa pasukan pemerintah Suriah masih menggunakan gugus mesiu yang dilarang kepada orang-orang," kala direktur divisi persenjataan di HRW, Steve Goose.
Sejumlah foto sisa-sisa roket yang dikumpulkan oleh para aktivis dan diberikan kepada HRW menunjukkan bagian roket 9M55K 300mm, termasuk bagian motor roket, bagian kargo, kerucut, dan konektor terkait. Selain itu ada juga roket submesiu berbentuk silinder anti personal fragmentasi 9N235 yang merupakan jenis dari roket 9M55K dan tidak sempat meledak. Pada roket tertera penanda yang menunjukkan bahwa senjata tersebut diproduksi tahun 1991.
Lebih lanjut HRW menulis bahwa roket 9M55K diluncurkan oleh BM-30 Smerch, sebuah sistem peluncuran roket multipel yang dirancang dan awalnya diproduksi oleh Uni Soviet pada akhir tahun 1980an. Namun kemudian produksi dilanjutkan dan diekspor oleh Unitary Enterprise Rusia "SPLAV State Research And Production Association" sejak tahun 1991 dan seterusnya.
Menurut produsennya, BM-30 Smerch bisa meluncurkan roket 9M55K dari jarak minimun 20 Km hingga jarak maksimum 70 km.
HRW menyebut bahwa aktivis lokal yang tidak disebutkan namanya mengumpulkan setidaknya 20 submesiu yang tidak meledak setelah serangan tanggal 12-13 Februari lalu. Dalam serangan tersebut, lanjut laporan tersebut, terdapat dua warga sipil yang tewas yakni seorang anak berusia sekitar 3-4 tahun bernama Abdulrahman Rami Almahmood dan seorang pria dewasa bernama Mahmood Talal Aldaly yang diperkirakan berusia 25 tahun, serta melukai 10 lainnya.
Keferzita merupakan wilayah yang telah diduduki oleh kelompok oposisi bersenjata sejak Desember 2012 lalu.
[ysa]