Pemerintah diminta memeriksa hasil karya seluruh pejabat negara agar kasus plagiarisme yang dilakukan oleh Anggito Abimanyu, Dirjen di Kementerian Agama dan Dosen UGM, tidak terulang lagi. Plagiarisme oleh pejabat negara sangat mungkin terjadi karena peran ghost writer, mengingat mereka tidak memiliki waktu untuk menulis sendiri.
"Saya mengimbau pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meneliti seluruh hasil karya tulis dari pejabat negara agar tidak menimbulkan rasa malu di kemudian hari. Plagiatisme merupakan bentuk kejahatan moral yang paling tidak bisa diterima oleh pendidikan tinggi," ujar alumni Fakultas Ekonomi UGM, Rahmad Pribadi, dalam pesan elektronik yang diterima redaksi (Selasa, 18/6).
Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pejabat negara, Rahmad menyampaikan imbauan tersebut mengingat tidak mudah bagi seorang pejabat negara untuk menyelesaikan S2 atau S3. Sehingga, dijelaskan lebih lanjut, perlu ditengarai peran ghost writer (penulis hantu) yang membantu para pejabat negara dalam menyelesaikan tugas-tugas akademiknya.
"Jika pejabat itu sekolah di luar negeri kecil kemungkinan untuk plagiat sekalipun dia tidak bekerja. Namun kalau pejabat melanjutkan studi lebih tinggi di Indonesia tanpa meninggalkan pekerjaannya, pasti salah satu entah itu pekerjaan atau studinya yang akan terkalahkan. Jika pejabat mampu menyelesaikan tugas akademik tetapi tetap aktif di instansinya boleh diduga peran
ghost writer," ujar lulusan Harvard University tahun 2013 jurusan Master Public Administration dan lulusan University Texas, Austin tahun 1992, Bachelor of Business Administrasion dengan bidang studi Accounting ini.
Tradisi pendidikan di Harvard University, dijelaskannya, kejujuran akademis adalah harga mati. Setiap mahasiswa harus mengikuti sesi khusus penjelasan tentang kejujuran akademis termasuk di dalamnya soal plagiatisme. Konsekuensi dari tindak plagiatisme atau pelanggaran atas
academic honesty sangat berat. Jika terbukti melakukan plagiatisme, mahasiswa atau alumnus dapat dikeluarkan dari perguran tinggi atau ijazahnya tidak diakui.
Sementara di University Texas, martabat perguruan tinggi dibangun melalui tradisi collegiate terutama di bidang sport yang sangat kuat. Upaya ini untuk menumbukan kebangaan dan ikatan yang kuat di antara para mahasiswa dan setelah menjadi alumnus.
Menurut dia penggunaan
ghost writer sah-sah saja sejauh bisa dipastikan tulisan dan ide itu adalah asli dan bukan melakukan plagiat. Hanya saja, kesalahan awal yang terjadi adalah ketika para mahasiswa yang pejabat itu tidak meneliti tulisan yang dibuat ghost writer. Padahal, untuk saat ini ada teknologi canggih yang bisa mentrace apakah hasil karya tersebut hasil tindak plagiat atau tidak.
"Kasus yang menimpa Anggito Abimayu saya kira bukan masalah ghost writer, tetapi kesalahannya terletak pada anggapan orang lain tidak tahu adanya tulisan sebelumnya. Itu khan urusan
copy dan
paste saja," ujar anggota Kadin Indonesia itu.
[dem]