Berita

Rakyat Belum Menikmati Kue Pembangunan

SABTU, 15 FEBRUARI 2014 | 19:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Demokrasi yang menjadi pilihan kolektif bangsa harus mampu mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Karena itu, demokrasi jangan sekadar dimaknai sebagai kontestasi dan persaingan politik semata.

"Buah kemerdekaan baru dinikmati 20 persen rakyat, sementara sisanya 80 persen rakyat belum menikmati," ujar Calon Presiden Konvensi Rakyat DR. Rizal Ramli saat memberi materi dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengawalan Pemilu 2014 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Pusdiklat Kemensos, Jakarta (Jumat, 14/2).

Menurut Rizal Ramli, keinginan rakyat dalam pemilu tidak dicerminkan dalam program-program pro rakyat oleh pemimpin terpilih. Sebaliknya, kue pembangunan diprogram hanya untuk kalangan atas.


"Tahun 2004 biaya perjalanan pejabat sebesar Rp 4 triliun, tahun ini sebesar Rp 20 triliun. Tapi biaya penting untuk rakyat, misalnya sektor pertanian dimana 30 persen rakyat hidup di sektor ini, anggarannya kurang dari Rp 15 triliun," papar Capres ideal versi Lembaga Pemilih Indonesia itu.

Lebih lanjut dikatakan Rizal Ramli, persoalan lain yang membuat 80 persen rakyat Indonesia belum sejahtera adalah karena model pembangunan neolib yang dijalankan pemerintah.

Padahal, katanya, jika Jepang bisa bangkit menjadi negara maju hanya dalam jangka waktu 25 tahun setelah perang dunia kedua, sementara China butuh waktu 15 tahun. Indonesia, menurut Menteri Koordinator Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur itu, sebenarnya bisa berubah menjadi negara maju yang sejajar dengan Jepang dan China hanya dalam waktu 20 tahun.

"Syaratnya jangan ikut model pembangunan neolib. Model pembangunan neolib pintu masuk neokolim," demikian Rizal Ramli.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya