Berita

FOTO:AFP

Dunia

China Rilis Pedoman Makanan untuk Kontrol Konsumsi Daging

KAMIS, 13 FEBRUARI 2014 | 13:08 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Masyarakat China cenderung lebih banyak mengkonsumsi daging daripada sayur. Pola konsumsi tersebut memicu kekhawatiran atas asupan makanan yang sehat serta gizi yang seimbang.

Demikian diutarakan Wakil direktur Institut Pengembangan Makanan dan Nutrisi yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian dan Komisi Kesehatan dan Keluarga Berencana Nasional China, Wang Dongyang dalam workshop media yang digelar di China, Rabu (12/2).

Wang menjelaskan bahwa demi membangun asupan makanan yang bergizi di China, maka pemerintah mengeluarkan pedoman baru terkait konsumsi makanan. Pedoman ini bertujuan untuk membantu menjamin pasokan makanan berkualitas dan memperbaiki gizi masyarakat, kata Wang seperti dilansir AsiaOne.


Dalam pedoman baru tersebut, pemerintah menargetkan pada tahun 2020 mendatang, China mampu meningkatkan produksi biji-bijian menjadi sekitar 550 juta metrik ton per tahun.

Pemerintah juga menargetkan pada tahun 2020, konsumsi daging per kapita turun menjadi 29 kg per tahun. Sedangkan konsumsi telur per kapita ditargetkan menjadi 16 kg per tahun, dan konsumsi susu ditingkatkan menjadi 36 kg per kapita per tahun.

Selain itu, di dalam pedoman tersebut, pemerintah menetapkan bahwa demi konsumsi sehat dan seimbang, rata-rata asupan energi masyarakat sehari-hari harus berkisar antara 2.200 hingga 2.300 kalori dengan minimal 50 persen asupan kalori tersebut berasal dari biji-bijian atau tumbuhan, sedangkan asupan lemak tidak boleh lebih dari 30 persen.

"Berbagai faktor, termasuk pengalaman dari orang asing, kebiasaan konsumsi pangan, kesehatan masyarakat, kapasitas pasokan makanan, dan trend industrialisasi serta urbanisasi, yang menjadi pertimbangan saat menetapkan angka-angka tersebut," jelas Wang.

Lebih lanjut Wang menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat China bermula dari masa ketidakpastian pasokan makanan yang berlangsung hingga akhir tahun 1990an. Setelah itu, masyarakat China cenderung mengalami masa penyesuaian pasokan makanan atau yang disebut Wang dengan istilah 'kompensasi konsumsi'. Masa kompensasi konsumsi berlangsung selama sekitar 20 tahun.

Kemudian, jelas Wang, mulai tahun 2010, pola konsumsi masyarakat China mulai mengalami kecenderungan untuk mengkonsumsi hewani. Menurut data survei dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, seperti disebut Wang,  pada tahun 2010, hampir 28 persen masyarakat China mengkonsumsi lebih dari 100 gram daging setiap hari.

Pola konsumsi tersebut mengalami peningkatan. Padahal, demi kesehatan konsumsi daging harus dibatasi setidaknya 75 gram per hari bagi laki-laki dan 50 gram per hari bagi wanita.

Pola konsumsi semacam itu, menurut peneliti senior Institut Gizi dan Keamanan Pangan Nasional, Yang Yuexin sejalan dengan pertumbuhan ekonomi China.

"Biasanya, dengan pembangunan ekonomi, konsumsi pangan hewani cenderung meningkat," jelasnya.

Ia mengimbau bahwa pola tersebut harus diubah demi menghindari gangguan kesehatan masyarakat China. Yang menyebut survei dari otoritas kesehatan yang menyebutkan bahwa pada tahun 2010, lebih dari 30 persen dari masyarakat China yang berusia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan. Hal itu sejalan dengan tingkat obesitas di China yang mencapai 12 persen. Selain obesitas, sekitar 260 juta orang lainnya menderita berbagai macam gangguan kesehatan kronis seperti hipertensi dan diabetes.

"Faktor risiko kesehatan masyarakat ini terutama berhubungan dengan konsumsi makanan," jelasnya.

Karena itu, melalui pedoman baru tersebut, pemerintah berjanji untuk membentuk mekanisme demi memantau diet masyarakat, memperkuat pengawasan, mempromosikan konsumsi makanan sehat, serta turun tangan dalam membantu orang-orang di daerah yang menderita gizi buruk.[wid]


Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya