Berita

ahmad basarah/net

Ahmad Basarah: KPK Harus Awasi Potensi Pemerasan BUMN Jelang Pemilu

RABU, 12 FEBRUARI 2014 | 20:27 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Biasanya, politik uang, korupsi dan penyalahgunaan anggaran negara menjelang pemilu selalu meningkat. Tak terkecuali menjelang Pemilu 2014, patut dicurigai ada penyalahgunaan fasilitas kekuasaan.

Karena itu, anggota Komisi III dari Fraksi PDI Perjuangan, Ahmad Basarah, meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk lebih intensif menjalankan tugas pengawasan terhadap titik-titik kebocoran anggaran keuangan negara, khususnya dari pos anggaran BUMN. Sudah jadi rahasia umum, BUMN kerap menjadi incaran karena bisa menjadi "lumbung padi" dan "mesin ATM."

"Jelang pemilu seperti sekarang, dugaan kebocoran uang negara semakin besar. Ini harus diwaspadai. Karena ujung-ujungnya rakyat juga yang dirugikan. Jangan sampai BUMN dijadikan bancakan, dihisap dan diperas uangnya untuk kepentingan politik di pemilu ini," kata Basarah, yang juga akrab disapa Baskara ini, beberapa saat lalu (Rabu, 12/2).


Atas dasar itu, Basarah meminta KPK untuk lebih ketat dan tegas mengawasi BUMN. Sebab BUMN menjadi salah satu lahan paling "becek" untuk bisa disalahgunakan uangnya demi kepentingan dana pemilu partai politik tertentu.

"KPK harus berani dan tegas dalam melakukan pengawasan hingga penindakan jika diketahui ada kebocoran anggaran negara," tegas Basarah.

Berdasarkan data ICW, pada 2011 ada 34 kasus korupsi yang melibatkan perusahaan BUMN dan BUMD dengan potensi kerugian negara Rp 733,27 miliar. Di 2012 terdapat sebanyak 24 kasus dengan potensi kerugian negara mencapai Rp 74,34 miliar. Sementara itu pada 2013 hingga bulan Juni sudah tercatat ada 25 kasus korupsi dengan potensi kerugian negara Rp 600,495 miliar. [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya