Berita

jokowi/net

Ada Udang yang Diburu di Balik Dukungan pada Jokowi

SENIN, 10 FEBRUARI 2014 | 08:54 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

. Dukungan sebagian elit PDI Perjuangan kepada Joko Widodo untuk maju sebagai calon presiden memang wajar adanya. Apalagi sebagian elit ini juga ikut berjuang memenangkan Jokowi, begitu Joko Widodo disapa, sejak putaran pertama Pilkada DKI Jakarta.

Hal yang aneh dan dinilai tidak wajar, atau paling tidak memicu pertanyaan, bahkan di elit PDI Perjuangan sendiri, adalah dukungan kepada Jokowi dari sebagian elit yang lain. Sebagian elit ini dikenal sejak awal menolak sosok Jokowi.

Dalam Pilkada DKI Jakarta misalnya, sebelum ada keputusan resmi dari Megawati Soekarnoputri, sebagian elit lain ini jelas-jelas menolak, dan bahkan mengkerdilkan Jokowi. Jokowi dinilai tidak akan mampu memimpin Jakarta karena tidak menguasai masalah, sementara persoalan di Solo tidak sekomplek di Jakarta.


Karena itu tidak heran, muncul kecurigaan dari dalam, kelompok ini tidak tulus mendukung Jokowi, atau ada udang di balik batu.

Tidak tulus, karena bisa jadi dukungannya itu bagian dari manuver untuk memprovokasi dan membuat Megawati marah. Modus gerakan ini, mengangkat Jokowi setinggi langgit, dengan cara mendegradasi dan melemahkan kepemimpinan Megawati. Tujuannya, membatalkan pencapresan Jokowi yang sebenarnya sudah hampir 85 persen.

Selain tidak tulus, gerakan ini juga dinilai ada motif lain. Modusnya, secara soft dan normatif mendukung Jokowi, namun dengan mulai mengajukan calon wakil presiden.

Kelompok ini cukup variatif. Ada yang mengusung calon wakil presiden dari luar karena punya hubungan, dan mungkin juga deal, dengan kelompok luar itu. Ada juga yang mengusung kader internal, yang kader internal itu selama ini dikenal jelas-jelas menolak dan tidak mendukung Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta lalu. [ysa]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya