Berita

jokowi

Ketimbang Gita, Ini Alasan Lengkap Australia Dukung Jokowi

KAMIS, 06 FEBRUARI 2014 | 13:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tak hanya pengamat dalam negeri yang memantau wacana Pemilihan Presiden 2014. Pakar Indonesia dari negara lain juga mulai memberikan penilaian, termasuk terhadap Gita Wirjawan yang telah mengundurkan diri sebagai Menteri Perdagangan Indonesia agar fokus menjalani Konvensi Capres Partai Demokrat yang ia ikuti.

Pakar hubungan Indonesia, Profesor Greg Fealy dari Australia National University menyebut bahwa Gita tidak popular dan tidak ada kemungkinan menang, yang artinya itu kabar baik bagi perdagangan Australia. Hal ini berdasarkan kebijakan Gita selama menjadi Mendag, terutama saat itu menghentikan impor daging sapi tahun lalu.

"Penangguhan impor daging sapi, sebagai contoh, adalah yang ia angkat hampir dalam pernyataan publik mingguan. Menyebut bahwa Australia merupakan mitra dagang yang tidak dapat diandalkan," jelasnya, seperti dikutip dari ABC Australia.


"Bila ia (Gita) menjadi kandidat yang serius, banyak orang di sektor perdagangan Australia akan sangat khawatir tentang itu," sambungnya.

Profesor Fealy menyebut, yang lebih berpeluang untuk menjadi Presiden kemungkinan adalah Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo. Jokowi di matanya, kurang antagonis terhadap kebijakan-kebijakan Australia.

"Dia adalah sorang pebisnis, dia menghargai keuntungan yang datang dari perusahaan. Dia pragmatis, dan dia juga nasionalis. Dan layak dicalonkan oleh partai nasionalis," kata Greg Fealy.

Dia menilai, permasalahan Jokowi jauh lebih sedikit daripada Gita Wirjawan. "(Gita) salah seorang yang paling vokal dalam masalah tekait dengan Australia dan Amerika Serikat," ungkapnya.  

"Jokowi tidak akan menjadi anti-perdagangan dan produk-produk Australia memiliki pasar yang bagus disini, dan berada pada harga yang baik, ia akan senang melihat keuntungan perdagangan," katanya lagi.

Senada dengan Professor Greg Fealy, Indonesianis dari Monash University, Australia, Professor Greg Barton juga berpendapat demikian terhadap sosok Jokowi.

"Ia pemimpin inspiratif yang kompeten dan tenang dan bila ia mendapat anggukan (tanda setuju) dari Megawati Soekarnoputri-Ketua Umum PDIP, ia akan hampir pasti memenangkan pemilu presiden," kata Profesor Barton.

Menurutnya, sejumlah nama yang muncul sebagai bakal capres di Indonesia hanya akan berujung pada situasi di mana praktik perdagangan internasional akan tak sehat karena dipicu kepentingan politik domestik yang mendorong proteksionisme. Sementara Jokowi, tidak terikat masalah nasionalisme. [zul]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Izin Dicabut, Toba Pulp Bongkar Dokumen Penghargaan dari Menteri Raja Juli

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:08

Prabowo Hadiri Forum Bisnis dan Investasi di Lancaster House

Rabu, 21 Januari 2026 | 18:04

Bonjowi Desak KIP Hadirkan Jokowi dan Pratikno

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:57

15 Anggota Fraksi PDIP DPR Dirotasi, Siapa Saja?

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:50

Pramugari Florencia 13 Tahun Jadi Bagian Wings Air

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:35

Inggris Setuju Kerja Sama Bangun 1.500 Kapal Ikan untuk Nelayan RI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:31

Bukan Presiden, Perry Warjiyo Akui yang Usul Keponakan Prabowo Jadi Deputi Gubernur BI

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:30

Wakil Kepala Daerah Dipinggirkan Setelah Pilkada

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:22

Konflik Agraria di Kawasan Hutan Tak Bisa Diselesaikan Instan

Rabu, 21 Januari 2026 | 17:20

Krisis Bukan pada Energi, tapi Tata Kelola yang Kreatif

Rabu, 21 Januari 2026 | 16:54

Selengkapnya