Berita

pemilu 2014

Politik

Di Tengah Bencana, KPU Hamburkan Uang Negara

SELASA, 04 FEBRUARI 2014 | 20:57 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Rapat akbar bertajuk "Konsolidasi Nasional Menyongsong Penyelenggaraan Pemilu 2014" yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai sebagai tindakan pemborosan anggaran perbelanjaan negara. Pasalnya, kegiatan itu diikuti oleh seluruh komisioner KPU daerah beserta jajaran sekretaris.

"Di tengah banyaknya bencana yang menimpa negeri ini, kegiatan itu terkesan tidak produktif dan cenderung tidak peka terhadap kondisi bangsa saat ini," ujar Direktur Riset dan Analisa Media, Pusat Studi Demokrasi dan Kebijakan Publik, Ahmad Fanani kepada redaksi sesaat lalu, Selasa (4/2).

"Bayangkan, ada 33 provinsi dan 497 kabupaten/kota dikali 6 orang peserta. Berarti ada 3.180 orang yang diundang ke Jakarta. Andaikata, tiket pesawat mereka masing-masing 5 juta rupiah per orang, maka anggaran negara untuk tiket saja lebih dari 15,9 miliar rupiah. Belum lagi fasilitas hotel, transportasi, dan biaya-biaya pelaksanaannya. Jumlahnya diperkirakan bisa mencapai 19 sampai dengan 20 miliar rupiah," tambahnya.


Fanani memahami bahwa rapat kordinasi yang dilaksanakan pada 4-6 Februari 2014 di Jakarta itu sangat penting dilakukan. Tapi menurutnya, kegiatan itu tidak mesti diikuti oleh seluruh komisioner KPU. Bisa dilakukan penghematan sampai dengan 85 persen jika yang diundang hanya ketua dan sekretaris KPU di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota.

Ia juga mensinyalir bahwa rapat kordinasi jenis ini sudah sering dilakukan sebelumnya. Kalau selama ini hanya perwakilan instansi masing-masing KPU saja yang diundang, kali ini mereka semua diundang. Akibatnya, terjadi pemborosan anggaran yang sangat tidak perlu.

"Kalau 85 persen anggaran pelaksanaan kegiatan itu disumbangkan ke korban bencana alam, pasti sudah sangat membantu. Ironisnya, bantuan korban bencana biasanya selalu terlambat dan cenderung mengalami hambatan. Namun dana untuk acara seperti ini tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu", ungkap Fanani.

Ia meminta BPK dan kalau perlu KPK memeriksa secara ketat penggunaan anggaran yang sangat boros tersebut. Dengan begitu, potensi penyalahgunaan anggaran negara dapat dihindarkan.

"Kalau dinilai ada pemborosan, maka BPK perlu memberikan peringatan dan tindakan agar kegiatan seperti ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang," pungkas Fanani. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya