Berita

ilustrasi mafia migas

Kadin: Penegakan Hukum Lemah dan Belum Mandiri di Bidang Energi, Masalah Serius

SELASA, 28 JANUARI 2014 | 15:06 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Lemahnya penegakan hukum dan belum adanya kemandirian di bidang energi menjadi persoalan serius yang membelit bangsa Indonesia sejak beberapa dekade terakhir.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Zainal Bintang di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, (Selasa, 28/1).

“Kadin merasa amat prihatin dengan lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Akibatnya tidak ada kepastian hukum karena diterapkan secara tebang pilih. Begitu juga sebagian besar rakyat Indonesia belum merasakan hukum yang berkeadilan. Ini tidak boleh terus berlangsung, sehingga harus segera dihentikan,” ujar Bintang.


Lemahnya penegakan hukum ini membuka peluang tumbuhnya praktik bisnis yang sarat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Salah satu praktik KKN yang sangat merugikan bangsa dan rakyat Indonesia terjadi di bidang minyak dan gas bumi (Migas). KKN pula yang melahirkan mafia Migas yang menimbulkan ekonomi biaya tinggi.

Ditambah dengan terlalu dominannya perusahaan Migas asing, menyebabkan Indonesia tidak berdaulat di bidang energi selama beberapa dekade terakhir. Pada saat yang sama, tiap tahun perusahaan Migas asing dan para mafia Migas tersebut telah meraup keuntungan yang sangat besar. Mereka ‘berpesta’ di atas penderitaan rakyat Indonesia.

Salah satu indikator utama belum adanya kedaulatan energi di negeri ini, adalah makin besarnya volume impor bahan bakar minyak (BBM) dari tahun ke tahun. Kondisi ini sangat menyedot devisa negara, sehingga memicu terjadinya krisis neraca perdagangan yang pada kuartal tiga 2013 saja mencapai -U$6 miliar. Kondisi itu diperparah lagi dengan terjadinya tiga deficit lainnya. Ketiganya adalah defisit Neraca Berjalan -U$9,8 miliar, deficit Balance Of Payments -U$6,6 miliar, dan defisit APBN plus utang lebih dari Rp2.100 triliun.

"Seperti telah berkali-kali disampaikan Ketua Umum Kadin Dr Rizal Ramli, kondisi ini benar-benar bahaya. Ekonomi Indonesia memasuki ‘lampu kuning’. Kita harus mencegah  agar Indonesia tidak kembali terpuruk seperti tahun 1998. Pada titik ini presiden 2014 menjadi sangat penting, karena dia akan menentukan garis kebijakan ekonomi dan mengomandani penegakan hukum tanpa pandang  bulu,” tegas Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Informasi dan Komunikasi ini.

Kadin Indonesia melihat lemahnya penegakan hukum dan belum adanya kemandirian di bidang energi merupakan persoalan serius.  Sebagai wadah pengusaha, Kadin Indonesia dituntut mampu berperan secara maksimal dalam pembangunan ekonomi nasional, termasuk dalam hal penegakan hukum tanpa pandang bulu dan berkeadilan.

Itulah sebabnya, mengambil momentum pelantikan pengurus Kadin Indonesia periode 2013-2018, pihaknya mengangkat dialog ekonomi bertajuk "Presiden 2014; Membangun Kedaulatan Energi & Penegakan Hukum yang digelar Hotel Ritz Carlton hari ini.  Hadir sebagai pembicara pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra, pengamat ekonomi Kwik Kian Gie, pengamat perminyakan Kurtubi, dan ketua Umum Kadin Indonesia Rizal Ramli.

Zainal Bintang yang juga Ketua Panitia Pelaksana Pelantikan Pengurus Kadin Indonesia periode 2013-2018, menjelaskan, dialog yang menjadi bagian dari rangkaian acara pelantikan pengurus Kadin ini dihadiri pengurus Kadinda 33 provinsi dan asosiasi serta himpunan pengusaha sebagai anggota luar biasa Kadin. [zul]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya