Berita

net

Pemimpin Harus Punya Jiwa Kebangsaan yang Kuat

SENIN, 27 JANUARI 2014 | 15:11 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa Indonesia adalah defisit moral di tengah surplus kekuasaan yang dirayakan sepanjang reformasi bergulir satu setengah dekade ini. Faktanya pemimpin yang ada sekarang belum mampu meningkatkan kualitas pembangunan Indonesia.

"Pemimpin mendatang harus bisa mambawa Negara kita maju secara merata tanpa ada korupsi," ujar Calon Presiden Konvensi Partai Demokrat Ali Masykur Musa dalam orasinya pada Peringatan HUT ke-2 Penerus Perjuangan Perintis Kemerdekaan Indonesia (PPPKI) di Makassar (Senin, 27/1).

Ali Masykur seperti dalam keterangan persnya, menggambarkan kondisi kepemimpinan bangsa saat ini dengan sebutan "3 Tuna". Yang pertama, adalah "Tuna Kepemimpinan". Menurut Cak Ali, tokoh yang hadir ditengah masyarakat saat ini seringkali memiliki etos kebangsaan yang tipis. Umumnya karena para tokoh tersebut muncul secara instan tanpa memiliki rekam jejak pengalaman yang mumpuni.


"Seorang pemimpin tentunya harus memiliki kepemimpinan yang kuat. Pemimpin terlahir dari sebuah proses yang panjang dan tidak mudah. Seperti para pejuang kemerdekaan, pemimpin berangkat dari bawah, bukan tiba-tiba muncul dengan pencitraan semata," ujarnya.
 
Kedua, adalah "Tuna Visi". Menurut Cak Ali, seorang pimpinan harus mempunyai visi misi yang memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa. Ketimpangan ekonomi dan kemiskinan di Indonesia tidak akan berakhir selama pemimpin yang ada tidak memiliki visi misi perubahan untuk Indonesia yang maju secara merata.

"Visi misi seorang pemimpin harus terlahir dari pandangan terhadap realitas kehidupan masyarakat. Bukan mengawang di langit, tetapi merangkum seluruh masalah kebangsaan dengan menyelam kedalam tubuh masyarakat bawah. Visi misi harus jelas sasarannya dan konkrit," jelas Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI ini.
 
Yang ketiga, disebut Cak Ali sebagai "Tuna Komitmen". Ditengah berbagai macam masalah yang mendera bangsa, Ketua Umum Ikatan Sarjana NU ini menyatakan bahwa pemimpin wajib memiliki komitmen untuk selalu berada disisi masyarakat.

"Yang terjadi saat ini adalah rakyat merasa kehilangan pemimpinnya. Negara sering tidak hadir ketika rakyat menghadapi masalah. Hal ini harus diubah. Seorang pemimpin bukan berpikir bagaimana cara menguasai dan memperkaya diri. Tetapi harus fokus melayani masyarakat," tegas Calon Presiden yang mengusung visi Indonesia Adil, Makmur, dan ber-Martabat ini.[dem]

 

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya