Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, Andi Arief, setuju dengan pernyataan budayawan Sudjiwo Tedjo bahwa alam tidak pernah memberi bencana pada manusia tetapi manusialah yang harus mengerti apa maunya alam, sehingga lebih tepat disebut sabda alam, bukan bencana alam.
Faktanya, kata Andi Arief, banjir Jakarta dan kota-kota lain, letusan Gunung Sinabung dan gempa selatan jawa serta gemuruh angin puting beliung yang terjadi belakangan ini nampaknya memang alam sedang bersabda.
"Tapi ilmuwan sudah jauh-jauh hari memberi pengertian melalui hasil penelitian pada masyarakat dan pemerintah bahwa banjir Jakarta, Sinabung dan gempa selatan jawa. Para ilmuwan sudah berkali-kali mengingatkan kejadian itu," kata Andi Arief dalam pesan elektroniknya kepada redaksi (Minggu, 26/1).
Namun sayangnya, kata dia, seperti juga nabi Nuh yang berupaya mengingatkan kaumnya, banyak masyarakat yang meremehkan peringatan para ahli tersebut termasuk Pemkab dan Pemda. Alam bersabda, ilmuwan membaca dan masyarakat harus percaya. Letusan Merapi, Kelud, Dieng, Bromo, Tambora, Agung, Krakatau dan banyak gunung lainnya sudah berkali-kali diingatkan para ahli. Demikian juga patahan aktif darat sepanjang Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi sampai Papua, termasuk potensi megathrust di zone subduksi Aceh, Mentawai, Selat Sunda, Selatan Jawa, Bali, Lombok, NTT, Sulawesi sampai Papua sudah bisa dibaca para ahli dan secara terang benderang semuanya memiliki siklusnya masing-masing.
"Sabda alam tak bisa dilawan, namun peringatan para ahli bisa menjadi dasar pengurangan resiko. Tsunami Aceh cukup menjadi pelajaran kita sebagai bangsa atas ketidak mengertian kita sebagai mahluk yang tak mengerti apa maunya alam," katanya.
"Tapi letusan Merapi dan Sinabung menjadi contoh bagaimana ratusan ribu orang terhindar dari bencana karena masyarakat patuh pada peringatan para ahli. Hanya banjir Jakarta yang sudah tercemar ulah politisi yang membuat pengetahuan menjadi tidak berguna. Pepatah Jepang mengatakan: tak ada lagi gunanya tangisan jika tak ada persiapan. Kita harus mau mengerti maunya alam," demikian Andi Arief.
[dem]