Rizal Ramli tersentak kaget. Anak sulungnya Dipo, yang ketika itu masih duduk di bangku kelas tiga SMA, mendapat tawaran menjadi pemegang saham dan direktur di sebuah perusahaan.
Rizal Ramli sedang dalam perjalanan dengan rombongan kecil meninjau sebuah daerah pusat produksi pertanian. Ketika itu ia masih menjabat sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog).
Ia sengaja membawa Dipo dalam perjalanan agar memiliki pengalaman mengunjungi daerah-daerah di Indonesia.
Cerita ini disampaikan Rizal Ramli ketika berbicara di debat publik capres Konvensi Rakyat di Medan International Convention Center (MICC) akhir pekan lalu (Minggu, 19/1). Rizal Ramli pernah juga menyampaikan cerita ini dalam berbagai kesempatan lain sebelumnya.
Inti dari cerita Rizal Ramli ini tentang godaan besar yang selalu dihadapi seorang pejabat pemerintah. Sang pejabat mungkin bisa menepis godaan-godaan itu. Tetapi godaan tadi bisa saja datang lewat orang-orang terdekat dengan diri sang pejabat.
"Setelah mendengar laporan Dipo, saya minta mobil berhenti sebentar di sebuah warung di pinggir jalan. Saya jelaskan kepada Dipo bahwa si pemberi tawaran memiliki maksud lain yang tidak baik, dan karena itu harus ditolak," kata Rizal Ramli.
"Kalau Dipo tetap terima, mendingan Dipo tusuk saja Papa sekarang dengan garpu ini," ujar Rizal Ramli mengambil garpu di atas meja yang ada di depannya.
"Karena itu sama artinya dengan membunuh Papa," sambung Rizal.
Rizal menjelaskan bahwa tawaran itu tidak akan diberikan andai Dipo bukanlah anak seorang Kepala Bulog. Rizal Ramli bersyukur karena anaknya dapat mengerti dan menolak tawaran tersebut.
Godaan lain datang lewat istri Rizal Ramli, alm. Hera yang bekerja sebagai arsitektur. Seorang pengusaha menawarkan tanah ratusan hektar kepada Hera. Menyadari bahwa tawaran tanah itu adalah bentuk sogokan yang bisa menjerat sang suami, Hera menolak. Ia pun menceritakan hal ini kepada Rizal Ramli.
"Jadi, mengaku anti korupsi dan menyatakan siap melawan korupsi itu mudah. Tetapi saat bibitnya datang lewat orang terdekat, belum tentu semua pejabat bisa menghadapinya," demikian Rizal Ramli.
[dem]