Berita

Politik

Rakyat Perlu Tahu Hubungan Capres dengan Kepentingan Asing

SELASA, 21 JANUARI 2014 | 19:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Memasuki tahun politik 2014, masyarakat perlu diberikan pemahaman yang lebih luas terkait situasi perpolitikan Tanah Air dan karakteristik pemimpin yang tepat dalam memposisikan Indonesia di dunia Internasional.

Untuk itu, pertautan antara berbagai kepentingan nasional dan internasional layak dipaparkan guna menyajikan opsi yang tepat bagi pemilih dalam menentukan pemimpin Negara.

Begitu dikemukakan Direktur Eksekutif Akar Rumput (ARSC), Dimas Oky Nugroho dalam Diskusi Media bersama ARSC di Jakarta, tadi pagi (Selasa, 21/1).


"Polling atau survei capres lebih mendominasi informasi ke publik seputar capres 2014. Padahal pemahaman geopolitik pun penting sebagai info bagi publik, bahwa Pemilu tidak pernah steril dari kepentingan asing," papar Dimas dalam diskusi yang mengangkat tema "Ke mana Arah Geopolitik Para Capres?"  itu.

Pengajar Ilmu Politik di beberapa kampus ternama itu menjelaskan, sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah merebut perhatian internasional berkat luas geografis, potensi demografis, dan kekayaan alam yang dimiliki. Tarik menarik kepentingan itu semakin intensif pada dua dekade-terakhir dengan semakin banyaknya unsur yang menjadi pemangku kepentingan.

Diuraikan Dimas, tidak hanya blok-blok Negara, kepentingan bisnis korporasi yang ingin mengamankan investasi di Indonesia akan terlibat aktif dalam perpolitikan Indonesia.

"Kepentingan mereka adalah stabilitas untuk mengamankan investasi. Karena itu, figur yang populis dan paling mampu menjaga stabilitas investasi itulah yang akan didekati," katanya.

Pandangan senada disampaikan, Berly Martawardaya,. Kekuatan-kekuatan ekonomi dunia, menurut pengajar Fakultas Ekonomi UI itu akan melakukan pendekatan khusus kepada para capres. Untuk itu, figur-figur yang hendak mencalonkan diri perlu memperhatikan data dan faktor ekonomi sebagai rujukan untuk menentukan pilihan kebijakan. “Isu penting yang perlu dipertimbangkan adalah pertumbuhan ekspor Indonesia yang meningkat, termasuk dengan India, RRC, Timur Tengah, dan Rusia,” ungkap peraih gelar doktor dari University of Siena, Italia.

Karena itu, Berly menilai para capres patut melakukan reorientasi dalam menentukan kebijakan ekonomi ke depan. Calon pemimpin perlu merangkul Negara-negara dan kekuatan-kekuatan ekonomi yang mampu membawa keuntungan, di luar AS dan Eropa. India, RRC dan China merupakan kekuatan ekonomi yang mampu membawa keuntungan secara nasional bagi Indonesia.

Orientasi kebijakan juga menjadi poin yang disoroti narasumber berikutnya, Yogi Prayogi Sugandi.  Pengajar Kebijakan Publik Universitas Padjajaran ini menilai Indonesia membutuhkan pemimpin visioner yang mampu menentukan proyeksi kebijakan luar negeri jangka panjang. Masalah yang kerap kali muncul dalam penentuan kebijakan adalah inkonsistensi pemimpin. Alhasil, orientasi kebijakan tidak pernah ajeg dan dapat berubah selaras dengan pendekatan pihak luar.

Yogi mencontohkan kebijakan pertahanan. Indonesia cukup lama menjalin hubungan dengan Rusia dalam pengadaan alutsista, termasuk pesawat temput. “Tapi setelah kunjungan Obama ke Jakarta, Indonesia mulai membeli pesawat rongsokan dari AS tanpa alasan yang jelas. Jadinya tidak jelas orientasi kita ke mana,” kata Yogi.

Contoh di atas, dalam pandangan Yogi, hanya merupakan salah satu gambaran betapa seringnya masalah muncul karena inkonsistensi kebijakan dan pragmatisme dalam pengambilan keputusan politik. Masalah serupa kerap kali terlihat pula dalam keruwetan kebijakan dalam negeri. Dia member contoh banyaknya kebijakan pemerintah daerah yang bertentangan dengan kebijakan Pusat. Untuk itu, Yogi berharap publik akan memilih pemimpin yang konsisten, visioner, dan mampu merajut kepentingan asing dan kepentingan nasional secara proporsional.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya