Satu lagi bukti yang menunjukkan Jusuf Kalla (JK) memiliki nilai perbedaan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di tengah deraan bencana banjir di sejumlah tempat, JK selaku Ketua Palang Merah Indonesia terjun ke lapangan mengunjungi para korban.
Dalam upayanya menangani bencana banjir yang terjadi di Manado, JK mengunjungi Ibukota provinsi Sulawesi Utara itu, hari ini (Senin, 20/1). JK dan rombongan PMI tiba di Menado pukul 10.30 WITA. Kedatangan JK langsung disambut Sinyo H Sarindajang yang kemudian langsung melakukan koordinasi soal penanganan bencana banjir di sana.
Dari rapat koordinasi itu diketahui bahwa warga membutuhkan pasokan air bersih untuk membersihkan barang-barang mereka yang terkena lumpur banjir.
"Yang paling penting sekarang air bersih, Pak," kata Sarundajang pada JK di Bandara Sam Ratulangi, Manado, seperti diinformasikan Media Officer M. Jusuf Kalla.
Wakil Presiden RI 2004-2009 ini bersama rombongan kemudian menuju pengungsian di kelurahan Tikala Ares, Manado, Sulawesi Utara. JK yang berseragam putih PMI dan lengkap dengan sepatu boot tak segan-segan berbecek-becek untuk temui warga yang nampak sedang membersihkan rumah pasca banjir bandang. Di sepanjang jalan, JK saksikan bekas-bekas terpaan banjir bandang di rumah dan pertokoan milik warga. Bisa dilihat tumpukan sampah bercampur lumpur masih terlihat di pinggiran jalan karena masih dalam proses pembersihan.
JK juga sempat menyambangi rumah-rumah warga korban banjir. Ia menyusuri lorong-lorong yang juga serba berlumpur. Selain itu, JK juga sempat mengunjungi Gereja Masehi Dendengan Luar untuk menjenguk pengungsi di sana.
"Saat ini kita benar-benar butuh air bersih," kata JK.
Dalam kunjungannya ini, usai makan siang di jalan Dendengan Luar, Kampung Pal 2, Manado, JK juga menegaskan bahwa PMI menyiapkan Rp 1 milliar untuk bantuan perbaikan kota dan pengadaan bantuan berupa peralatan bayi dan makanan.
"Kita siapkan kira-kira Rp 1 miliar untuk bantuan kita mungkin untuk 3 hari ini," kata JK.
Saat makan, JK melakukan koordinasi dengan kerabatnya yang memiliki perusahaan otomotif di sana. JK memintanya untuk memperbantukan truk untuk membantu warga mengangkut sampah-sampah. Sementara saat ini pihak PMI sudah menyerahkan sejumlah bantuan berupa gerobak sorong, skop pada warga di kampung Tikala Ares, Manado.
Selaku ketua PMI, JK katakan juga bahwa sekurangnya 300 relawan ia kerahkan untuk membantu perbaikan kota Manado yang memang masih porak-poranda. Menurut JK, perbaikan kota menjadi prioritas penanganan pasca banjir untuk menghindari munculnya ancaman penyakit.
"Yang terpenting sekarang adalah perbaikan kota. Karena kalau tidak, (akan ada) ancaman penyakit yang akan kita hadapi lagi," katanya.
Karena warga di sana kini sangat membutuhkan air bersih, JK juga meminta bantuan pompa air untuk pembersihan kota dan rumah warga. Menurutnya, meskipun bahan makanan yang tersedia melimpah, semua itu tak bisa diolah tanpa air bersih.
"Walaupun makanan melimpah, kalau tak ada air bersih mau dimasak pakai apa?" tukas Ketua Umum DMI ini.
Dari Tikal Ares dan Pal 2, JK kunjungi kampung Ranotana Weru. Kedatangan JK disambut tepuk tangan para korban dan pengungsi di sana. Seperti sebelumnya, warga langsung menghampiri JK dan meluapkan uneg-uneg mereka tentang bencana banjir bandang yang menimpa mereka. Seperti korban di kampung-kampung sebelumnya, warga menyatakan bahwa kebutuhan air bersih begitu mendesak di sana. Juga, anak-anak kini banyak kehilangan seragam sekolah mereka.
Bagaimana dengan SBY. SBY selaku Kepala Pemerintahan dan Negara malah memilih pergi ke Bali. Salah satu agenda SBY di Pulau Dewata adalah untuk konsolidasi Partai Demokrat. SBY membuka acara konsolidasi yang diikuti oleh 4.500 kader Partai Demokrat sewilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Hadir selaku Ketua Umum DPP Partai Demokrat, SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan putranya Edhie Bhaskoro Yudhoyono yang menjabat sekretaris jenderal partai tersebut. Sejumlah petinggi Partai Demokrat yang duduk dalam jajaran Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, seperti Jero Wacik (Menteri ESDM), Sjarif Hasan (Menkop UKM), dan Amir Syamsudin (Menkumham) turut hadir dalam pertemuan itu.
Perbedaan JK dan SBY ini mengingatkan perbedaan nilai diantara keduanya saat menjabat Wakil Presiden dan Presiden RI 2004-2009. Salah satunya, JK disebut banyak pengamat menonjolkan kegesitan, taktis, amat trampil meratakan sejumlah masalah dalam day-to-day politics. Sehingga, tidak heran JK lah yang membereskan sejumlah masalah krusial yang dihadapi pemerintahaan. Adapun SBY, hadir di panggung untuk 'meresmikannya'. Masih ingat rangkaian fakta setelah masalah Aceh dan Poso mendapatkan sentuhan JK.
[dem]