Berita

rizal ramli/rmol

Rizal Ramli: Kita Belum Merdeka secara Ekonomi

KAMIS, 16 JANUARI 2014 | 19:27 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Perekonomian makro Indonesia bisa berkembang pesat akibat harga komoditi di dunia yang naik terus dan masalah perekonomian negara-negara Eropa yang bisa membuat harga saham di Indonesia naik. Namun belum tentu dapat mensejahterkan kehidupan masyarakat.

Demikian disampaikan keynote speech ekenom senior sekaligus Menteri Perekonomian RI era Gus Dur, Dr. Rizal Ramli dalam seminar nasional "Repsosisi Ekonomi Indonesia Menyongsong Masyarakat Ekonomi Asean 2015" yang digelar Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta (UBH) di Aula Balairung Caraka, Kampus I UBH Ulak Karang, Padang, (Kamis, 16/1).

Ia menyoroti, kenaikan harga yang bertubi-tubi, membuat ekonomi mayoritas keluarga Indonesia sudah memasuki "lampu kuning". Tragedi ini terjadi pada ekonomi makro yang selama ini dibangga-banggakan.


"Perekonomian Indonesia saat ini berada di "lampu kuning" yang harus berhati-hati suatu saat bisa berubah tanda menjadi "lampu merah"," ujar RR1 sapaan akrabnya.

Ia menilai tahun 2014 ini, tahun yang sangat genting sebab bersamaan dengan pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Tentunya masyarakat harus mampu memilih pemimpin yang bisa menyelesaikan masalah dan bukan malah membawa masalah dalam kepemimpinannya.

Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Perubahan (ARUP) ini mengungkapkan, negara ini bisa maju bila kebijakan perekonomiannya tidak neoliberalisme yang sangat tidak menguntungkan bagi masyarakat keci,l dan tidak sepaham sengan pokok-pokok pemikiran ekonomi proklamator Bung Hatta, yang berujung untuk mensejahterakan kehidupan masyarakat.

"Saat ini mayoritas masyarakat Indonesia itu cuma numpang untuk makan saja tapi kesejahteraannya tidak tercukupi. Wajar saja 80 persen masyarakat Indonesia belum bisa dikatakan merdeka secara perekonomiannya," terang capres ideal versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI).

Maka untuk melihat pertumbuhan perekonomian itu, tambah Rizal, bukan saja dari pembangunaan tapi dari kesejahteraan masyarakat terutama dalam menyongsong Asean Economic Community 2015. [rus]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya