Berita

rmol

Politik

Peserta Konvensi Demokrat Imbau Rakyat Tidak Golput

KAMIS, 16 JANUARI 2014 | 19:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Rasa skeptis dan pesimis seolah kerap timbul menjelang pemilu 2014. Hal ini disinyalir karena kepercayaan publik merosot tajam kepada kader partai dan sosok calon pemimpin yang ada. Apalagi kini banyak kasus korupsi terungkap di tubuh partai yang menjangkiti mulai dari ketua partai hingga struktur di bawahnya.

Menanggapi hal ini, salah satu peserta konvensi calon Presiden partai Demokrat, Pramono Edhie Wibowo, merasa perihatin. Edhie pun mengingatkan pentingnya menggunakan hak pilih dalam menentukan masa depan bangsa.

"Anda bisa menentukan nasib bangsa ini melalui hak pilih yang anda miliki," kata Edhie dalam keterangan persnya (Kamis, 16/1/).


Menurutnya, ikut memberikan suara dalam pemilu dinilai sebagai usaha yang baik karena kita perduli dengan masa depan bangsa ini daripada memilih untuk tidak peduli dengan menjadi golput.

Dia juga mengimbau publik agar cerdas dalam mengenali karakter setiap capres karena pada saat ini kemudahan mendapatkan informasi melalui berbagai media massa dapat memudahkan calon pemilih menilai seorang capres.

"Kita harus memiliki rasa optimis, gali informasi sebanyak mungkin dan kenali capres dengan baik, rasanya masih banyak orang baik dan berkualitas serta perduli terhadap bangsa ini," tegasnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, saat ini jumlah golongan putih alias golput meningkat tajam yakni mencapai 35%-40%. Hal ini masih merupakan trend dari pemilu di masa lalu. Sejak Pemilu 1999 angka golput sudah mencapai di kisaran 10,21%, Pemilu 2004 naik menjadi 23,34%, dan Pemilu 2009 naik lagi menjadi 29,01%. Bila dibandingkan dengan masa Orde Lama dan Orde Baru, angkat itu sangat tinggi. Angka golput pada pemilu era Orde Lama dan tujuh kali Pemilu di era Orde Baru tak pernah lebih dari 10%.

Untuk Pemilu Presiden dan Pemilu Kepala Daerah, angka golput juga tinggi. Pilpres 2004 angka golput 21,5%, Pilpres 2009 naik menjadi 23,3%.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Koperasi Harus Saling Berkolaborasi Perbesar Dampak Ekonomi

Jumat, 10 April 2026 | 22:20

Presiden Harus Ganti Gus Ipul Demi Sukses Muktamar NU

Jumat, 10 April 2026 | 22:14

Demonstran: MK Harus Jaga Marwah dan Jangan Takut Tekanan

Jumat, 10 April 2026 | 22:06

Pimpinan Baru Ombudsman RI Bertekad Kawal Asta Cita dan Perkuat Pengawasan Publik

Jumat, 10 April 2026 | 22:02

Teddy Bantah Isu RI Kaos, BBM Subsidi Tak Naik Jadi Bukti

Jumat, 10 April 2026 | 21:43

Breaking News: KPK OTT Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Jumat, 10 April 2026 | 21:38

Reshuffle Menteri Prabowo Jangan Tebang Pilih

Jumat, 10 April 2026 | 21:16

Dihantam Gelombang Mundur, PKN: Mati Satu Tumbuh Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 21:02

Perlu Peraturan Pemerintah Baru Demi Lindungi 64 Juta UMKM di Era Digital

Jumat, 10 April 2026 | 20:48

TNI Digeber Lewat Bimtek Ketahanan Pangan

Jumat, 10 April 2026 | 20:44

Selengkapnya