Berita

ariel sharon/net

Dunia

Ariel Sharon Tetap Dibenci Rakyat Palestina

MINGGU, 12 JANUARI 2014 | 15:40 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Berbeda dengan Amerika Serikat dan Israel yang menyanjung mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, warga Palestina justru mengecam pria yang juga pernah menjabat Menteri Pertahanan Israael itu.

Di Palestina, Ariel Sharon dianggap sebagai sosok yang dibenci. Jenderal Israel ini dikenal sebagai sosok yang keras kepala. Dia kerap melawan perintah. Dan ketika menjadi politisi ia dikenal sebagai bulldozer bagi rakyat Palestina.

"Tentu saja tidak ada perasaan senang dalam kematian. Namun malangnya saya harus mengatakan bahwa Sharon tidak meninggalkan kenangan manis bagi rakyat Palestina," kata seorang tokoh politik Palestina, Mustafa Barghouti, seperti dikutip BBC (Minggu, 12/1).


Menurut Barghouti, sikap Sharon yang menempuh jalur agresi dan perang dalam mewujudkan perdamaian, melukai hati rakyat Palestina. Pasalnya, puluhan ribu rakyat palestina tewas selama perang yang didalangi Sharon.

"Sayangnya, ia menempuh jalan perang dan agresi yang menjadikan kegagalan besar dalam menciptakan perdamaian dengan rakyat Palestina," tambah Mustafa Barghouti.

Sikap lebih ekstrim ditunjukkan oleh Hamas. Penguasa Jalur Gaza ini menyatakan bahwa kematian Ariel Sharon telah menandai hilangnya seorang "penjahat" yang tangannya berlumuran darah Palestina.

Sharon wafat kemarin (Sabtu, 11/1) di sebuah rumah sakit di Tel Aviv, setelah sebelumnya terbaring koma selama delapan tahun. Ia menghembuskan nafas terakhir dalam usia 85 tahun

Sebagai catatan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan di tahun 1982, Ariel Sharon pernah memerintahkan invasi besar-besaran pasukan Israel ke negeri tetangga mereka, Lebanon. Salah satu peristiwa besar dalam perang 1982 ini adalah pembantaian ribuan pengungsi Palestina di kamp Sabra dan Satilla di Lebanon. Ariel Sharon sampai sekarang masih dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pembantaian itu. [ian]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya