Berita

Tolak Bangun Smelter, Freeport dan Newmont Harus Diusir

JUMAT, 10 JANUARI 2014 | 17:43 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kecaman atas keengganan PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara membangun pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di dalam negeri terus mengalir.

Sebagai perusahaan pertambangan pemegang ijin Kontrak Karya, Freeport dan Newmont wajib menjalankan UU Minerba dengan melakukan pemurnian tembaga dan emasnya melalui pembangunan smelter.

"Nasionalisasi Freeport dan Newmont jika tidak melakukan pemurnian tembaga dan emasnya di Indonesia. Masih ada BUMN kita yang sanggup mengambil alih eksplorasi yang dilakukan dua perusahaan asing itu," desak Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Lamen Hendra Saputra kepada redaksi (Jumat, 10/1).


Lamen juga mengecam provokasi yang dilakukan Freeport dan Newmont. Alih-alih menjalankan perintah UU Minerba No 4/2009 yang melarang perusahaan pertambangan mengekspor bahan mineral mentah dan wajib membangun smelter, Freeport dan Newmont malah melakukan provokasi kepada rakyat Indonesia dengan isu PHK massal jika aturan tersebut berjalan.

Menurut Lamen, diberlakukannya UU Minerba tidak akan menimbulkan PHK massal. Justru, jika semua perusahaan tambang di Indonesia mau membangun smelter, akan tersedia 400 ribu lapangan kerja baru.

"Kami tahu bahwa yang justru akan mengalami PHK adalah perusahaan-perusahaan smelter yang ada di China, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan Amerika Serikat," tegasnya.

Selain menciptakan tenaga kerja baru, katanya, pembangunan smelter di dalam negeri juga menjadikan nilai bahan tambang yang dapat dimurnikan melalui pembangunan smelter bisa naik menjadi 10-30 kali lipat dari sekedar biji mentah (ore). Dengan begitu, pendapatan negara dari tambang otomatis bisa naik drastis.

"Hentikan provokasi dengan menggunakan isu PHK massal," demikian Lamen yang siang tadi bersama aktivis LMND lainnya menggelar demo di Kantor Pusat Freeport Jakarta. [dem]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya