Berita

foto: net

Bisnis

Kenaikan Harga Gas Sudah Dikondisikan Lebih Dulu

JUMAT, 03 JANUARI 2014 | 14:49 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Kenaikan harga gas elpiji 12 Kg hingga di pasaran menembus Rp 140 ribu per tabung sudah direncanakan dengan pra kondisi yang diciptakan pemerintah. Tak salah jika kenaikan itu disebut "kado istimewa tahun baru" untuk rakyat.

Direktur Investigasi dan advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Uchok Sky Khadafi, merinci pra kondisi yang sudah diciptakan itu.  Pertama,  pemerintah tidak pernah mau mengubah porsi penjualan gas antara kebutuhan luar negeri dengan dalam negeri. Pemerintah tetap mempertahankan porsi penjualan gas luar negeri tetap tinggi, dan dalam negeri rendah.

Mengutip data Kementerian ESDM, porsi penjualan gas pemerintah dalam tahun 2012 adalah untuk dalam negeri sebanyak 40,7 persen, dan untuk ekspor sebanyak 59,3 persen. Akibat dari minimnya pasokan gas ini, mengakibatkan  pasokan LPG untuk pasar dalam negeri sangat minim.


Akibat dari itu, PT, Pertamina melakukan pembelian LPG dari pasar impor sebanyak 48 persen  pada tahun 2011; dari pasar impor sebanyak 51 persen pada 2012; sebanyak 57 persen dari impor pada 2013; dan pada tahun ini diperkirakan sebanyak 58 persen dari impor.

"Pertamina harus membeli LPG lebih mahal karena minim pasokan dalam negeri. Contoh, untuk tahun 2011 pengadaan impor LPG lebih mahal sebesar US$ 48 per metrik ton," katanya.

Kedua, kenaikan harga gas elpiji 12 Kg disebabkan justifikasi atau rekomendasi BPK yang tertuang dalam  hasil audit BPK semester 1 Tahun 2013 terhadap PT. Pertamina untuk sektor Gas. Dalam rekomendasi BPK tersebut, PT. Pertamina dalam kurun waktu 2011 - 2012 mengalami kerugian sebesar Rp 7,73 triliun.

Untuk itu, Pertamina disuruh menaikkan harga LPG tabung 12 Kg dalam rangka mengurangi kerugian keuangaan mereka. Kalau tidak, pendistribusian LPG dalam waktu panjang akan terganggu, dan kemampuan finansial Pertamina dalam jangka panjang akan menurun.

"Hasil audit BPK tidak objektif, ada kesan kepentingan titipan agar ada alasan pembenaran untuk menaikkan harga LPG," tegasnya.

Seharusnya, BPK tak melihat keuangaan Pertamina dari sudut pandang perbandingan harga produksi LPG dengan harga jual ke publik karena pasti hasilnya Pertamina merugi.

"Saya sarankan, BPK lihat dan verifikasi dokumen Pertamina yang berkaitan terhadap dugaan mark up penjualan maupun pembelian Gas Pertamina," umbarnya. [ald]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Hadiri Penutupan Muktamar NU, Prabowo Dikalungi Sorban

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:17

Muktamar ke-35 NU: LAZISNU Bagikan Santunan Yatim dan Kacamata Gratis untuk Guru Ngaji

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:13

Tim Formatur PBNU Diberi Waktu Sebulan Susun Kepengurusan

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:07

Rupiah Lesu ke Rp17.754 per Dolar AS di Awal Pekan, Pasar Wait and See

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:57

Harga Emas Dunia Stabil Usai Anjlok Akibat Sinyal Suku Bunga The Fed

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:43

IHSG Pagi Tertekan, Tiga Saham Malah Melompat

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:28

Muslim Arbi Soroti Amandemen UUD 1945 dan Maraknya Politik Dinasti

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:14

Emas Antam Mandek di Rp2,6 Juta per Gram

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:56

Kapolri Mutasi Sejumlah Pejabat Strategis, Dua Kapolda Berganti

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:53

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih dari 3 Persen

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:38

Selengkapnya