. Pengumuman Bank Sentral Amerika (The Fed) yang mau mengurangi stimulus, atau tapering off, pada Januari tahun depan dinilai sebagai kebijakan yang dianggap moderat. Atas pengumuman ini, pasar Amerika Serikat bereaksi positif karena menanggapnya sebagai berita yang bagus.
"Penurunan pembelian bond oleh The Fed hanya 10 miliar dolar AS per bulan. 5 miliar dolar AS untuk morgage-backed securities, dan 5 miliar dolar lagi untuk treasury securities," kata ekonom senior, Dradjad Hadi Wibowo, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 19/12).
Dampak positif pengumuman ini terhadap pasar keuangan global, lanjut Dradjad, terjadi di pasar modal. Sementara dampak negatifnya, khususnya terhadap pasar uang global, relatif tergolong "ringan hingga sedang". Hal ini terlihat dari kurs mata uang Asia dan Australia yang cenderung terdepresiasi "ringan hingga sedang" setelah pengumuman The Fed.
Masalahnya, ungkap Dradjad, yang beberapa saat lalu dihubungi sedang berada di Milan Italia, saat ini Indonesia tidak dimasukkan ke dalam "keranjang Asia dan Australia". Indonesia dimasukkan ke dalam keranjang
fragile emerging markets, atau pasar
emerging yang rentan.
"Di sini kita menjadi satu dengan Afrika Selatan, Brazil, India dan Turki. Rupiah bahkan anjlok paling besar dibandingkan mata uang keempat negara lainnya. Karena pasar Asia dan
fragile emerging markets sedang menjadi lahan spekulasi terkait t
apering off, mau tidak mau Rupiah masih akan terdepresiasi," ungkap Dradjad.
Dradjad melanjutkan depresiasi Rupiah tergolong dalam level sedang, dengan depresiasi harian rata-rata antara 0,3-1,5 persen selama masa spekulasi. Karena itu, penting bagi Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan mengambil langkah untuk mengurangi lama dan besarnya spekulasi.
"Dugaan saya, Rupiah masih akan dimainkan hingga minggu pertama Januari. Jika BI dan Kemenkau mampu memberi pelajaran kepada pemain keuangan yang berspekulasi, rasa-rasanya Rupiah masih bisa ditahan pada level di bawah Rp 12.500 per dolar AS. Dan setelah pembayaran utang swasta selesai per 31 Desember 2013, mungkin saja Rupiah menguat," jelas Dradjad.
Tapi Dradjad, yang juga Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengingatkan, jika BI dan Kemenkeu gagal memberi pelajaran pada spekulan, maka Rupiah bisa tembus hingga Rp 12.500 per dolar AS ke atas. Dan bila ini terjadi maka makin sulit untuk kembali ke selang Rp 11.500-12.000 per dolar AS.
"Bagaimana cara memberi pelajaran? Yang paling efektif adalah membawa dolar AS masuk ke Indonesia. Semua kebijakan harus diarahkan ke sana, yaitu bawa dolar masuk," demikian Dradjad.
[ysa]