Berita

Rizal Ramli/net

Rizal Ramli: Demokrasi yang Dikembangkan di Indonesia, Demokrasi Prabayar

MINGGU, 01 DESEMBER 2013 | 14:31 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Demokrasi yang kini dikembangkan di Indonesia adalah demokrasi prabayar. Para calon pejabat membayar rakyat dengan uang agar terpilih dan berkuasa. Akibatnya, demokrasi menjadi sangat mahal karena sarat dengan money politic. Demokrasi prabayar juga tidak akan menghasilkan pemimpin yang hebat yang bekerja untuk rakyatnya.

Demikian disampaikan ekonom senior Rizal Ramli pada diskusi publik bertajuk “Refleksi Akhir Tahun dan Menuju Perubahan Indonesia tahun 2014” yang diselenggarakan Partai Gerindra, di Senayan, Jakarta, kemarin.

“Demokrasi prabayar benar-benar merusak Indonesia. Para calon pejabat publik, baik di eksekutif maupun legislatif bisa membeli suara rakyatnya. Padahal uang yang mereka gunakan berasal dari tindakan kriminal juga, seperti korupsi. Kalau kemudian rakyat menuntut mereka bekerja untuk bangsa, mereka berkilah sudah ditunaikan pada waktu kampanye, yaitu saat mereka membayar Rp100.000 untuk tiap suara yang mereka peroleh,” jelas Rizal Ramli.


Menurut calon presiden paling ideal versi The President Centre ini, akibat sistem politik dan demokrasi prabayar, banyak tuntutan dan kepentingan rakyat  yang terabaikan. Hal itu disebabkan rakyat memilih pemimpinnya bukan karena kualitas, tapi demi keuntungan jangka pendek yang didapat saat kampanye.

“Kita harus menghentikan demokrasi prabayar ini segera. Harus kita ubah menjadi demokrasi pasca bayar. Caranya, pilih pemimpin yang hebat dan amanah yang akan bekerja habis-habisan untuk bangsa dan rakyat Indonesia,” tukas Rizal Ramli yang juga Ketua Umum Aliansi Rakyat untuk Rakyat (ARUP) yang disambut tepuk tangan peserta diskusi.

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid itu juga berpendapat Indonesia harus meninggalkan sistem ekonomi neolib supaya maju dan rakyatnya sejahtera. Para pejabatnya harus punya nasionalisme  yang tinggi, sehingga dalam setiap kebijakannya lebih mengutamakan kepentingan bangsa dan rakyatnya, ketimbang mengikuti sistem ekonomi liberal yang menyerahkan segala sesuatunya kepada mekanisme pasar.

“Yang kita butuhkan bukanlah sistem liberal, tapi sistem ekonomi yang fair. Sistem liberal seperti memaksa petinju kelas bulu Indonesia Elyas Pical melawan juara kelas berat dunia Mike Tyson. Ini tidak fair! Saya yakin, kalau kita tinggalkan sistem ekonomi liberal dan meninggakan demokrasi prabayar, maka Indonesia akan menjadi negara yan g disegani di Asia. Indonesia yang maju dan rakyatnya sejahtera,” paparnya.

Rizal Ramli dikenal sering melahirkan kosa kata baru terkait sistem dan kehidupan politik nasional. Sebelumnya dia mememperkenalkan demokrasi prosedural, demokrasi transaksional, dan demokrasi kriminal.  Kali ini Rizal Ramli menyebut demokrasi prabayar untuk maraknya praktik politik uang yang sudah begitu menggurita. Beberapa waktu lalu, dia juga memperkenalkan istana hitam guna menggambarkan berbagai deal dan persekongkolan antara pusat kekuasaan dan pengusaha yang merugikan rakyat.

Selain Rizal Ramli, diskusi juga menghadirkan Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi dan guru besar IPB Arya Hadi Dharmawan. Sedianya juga akan hadir pakar hukum tata negara  Jimly Asshiddiqie. Namun hingga diskusi berakhir, Jimly urung hadir.

Sebagian besar peserta diskusi adalah para anggota DPR Fraksi Gerindra dan Caleg Partai Gerindra. Mereka tampak serius menyimak pemaparan Rizal Ramli yang siang itu dihadirkan dalam kapasitasnya sebagai pakar ekonomi. Pertanyaan dan tanggapan pun lebih banyak berkaitan dengan perkembangan seituasi ekonomi terkini dan dampaknya terhadap politik, khususnya menjelang 2014. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya